Ketersediaan Darah di UTD-RS

Stok darah per 24 Agustus 2014:

A = 7; B = 12, O = 1, AB = 3

Sumber: Debi (UTD RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo)

Minggu, 22 Agustus 2010

Kuliah Subuh di Masjid Al Ihsan (2)

Pada hari Ahad, 22 Agustus 2010 di Masjid Al-Ihsan setelah shalat Subuh diselenggarakan Kuliah Subuh dengan topik Imam Abi Hanifah: Guru, Murid, Output dan Pergaulannya di tengah masyarakat. Berikut ini adalah catatan singkatnya:

Guru beliau bernama Hammad bin Abi Sulaiman. Beliau berguru kepadanya selama 18 tahun. Hubungan mereka adalah saling mencintai karena Allah. Pernah suatu kali anak Hammad bertanya kepada ayahnya yang baru pulang dari Basrah, "Siapa yang paling ayah rindukan ketika bepergian?" Dia mengharapkan yang dirindukan ayahnya adalah anaknya (cucunya), tapi ayahnya menjawab, "Yang paling aku rindukan adalah Abu Hanifah".

Imam Abu Hanifah pernah berkata, "Saya tidak pernah berdo’a untuk sendirian, tapi setelah mendo’akan orang tua, kemudian mendo’akan syeikh dan siapapun yang aku belajar kepadanya dan untuk murid-muridku".


Untuk melihat bagaimana hormatnya kepada gurunya kita dengarkan penuturan beliau: "Saya tidak pernah meluruskan kakiku ke arah rumah Hammad, yang memisahkan rumahku dan rumah Hammad 7 rumah".

Selain itu beliau juga memiliki guru-guru yang lain seperti Atha’ bin Abi Rabbah, Nafa’, Muhammad al Baqir, Ja’far Shadiq, dan lain-lain.

Imam Abu Hanifah sangat dermawan kepada muridnya. Pernah suatu kali Abu Yusuf, murid kesayangannya, menghadap dan mengatakan bahwa dia tidak bisa mengikuti pelajaran karena bekerja. Kemudian dia ditanya tentang berapa penghasilannya. Setelah itu Imam Abu Hanifah memberikan penghidupan kepadanya dan keluarganya untuk 10 tahun. Ketika Abu Yusuf mengungkapkan bagaimana dermawannya Imam Abu Hanifah, beliau berkata bahwa gurunya (Hammad) lebih dermawan lagi).

Selama memberikan pelajaran tentang fiqh, beliau telah mencetak 36 murid yang berdedikasi, 28 orang dari muridnya menjadi hakim, 6 orang kasih memberikan fatwa, 2 orang melakukan ijtihad.

Imam Abu Hanifah di Masyarakat

Imam Abu Hanifah adalah seorang faqih sekaligus sebagai seorang pedang. Dia menunjukkan bagaimana faqih di pasar, dan bagaimana businessman menjadi faqih.

Berikut ini adalah beberapa prinsip yang digunakan oleh Imam Abu Hanifah dalam berdagang:
  • Tidak ada eksploitasi
  • Tidak ambil untung dari orang miskin, orang tua
  • Kalau beli barang, dia memastikan penjual juga mendapat untung
  • Dia jujur
  • Kalau ada kerusakan pada barang yang dijualnya, dia memberitahukannya kepada pembeli
  • Tidak ada argumentasi dengan harga (harga pas)
  • Kalau keuntungannya melebihi 4000 dirham maka kelebihannya akan diberikan untuk sedekah bagi orang tuanya, muridnya dan masyarakat yang membutuhkan
  • Tidak pernah memuji barangnya; pernah suatu kali ketika pembeli ingin membeli suatu barang, kemudian ketika anaknya mengambil barang tersebut sambil mengucapkan "Allahumma shalli 'ala Muhammad", maka dia tidak jadi menjual barang tersebut, karena dia menganggap hal itu adalah tindakan memuji barang yang sedang dijual.
  • Dia punya partner yang menjalankan bisnisnya. Karena sejak belajar fiqh, dia hanya turun ke pasar seminggu sekali (hari Sabtu).
  • Dia menyedekahkan penjualan yang tidak menjelaskan cacatnya; suatu waktu dia ingin menjual pakainnya yang ada rusaknya. Dia mengingatkan penjualnya untuk memberitahukan kepada pembeli bahwa baju ini ada cacatnya. Ketika ada pembeli yang membeli baju tersebut, penjual lupa untuk memberitahukan cacat baju tersebut. Ketika Imam Abu Hanifah mengetahui bahwa penjual tersebut lupa memberitahukan cacat baju tersebut, dia langsung menyedekahkan hasil penjualan baju tersebut.
Pelajaran yang bisa diambil adalah: Imam Abu Hanifah adalah orang yang sangat kaya, namun uangnya ada di tangan, tidak ada di hati. Bertambahnya uangnya tidak membuatnya senang dan berkurangnya uangnya tidak membuatnya bersedih. Beliau yang mengendalikan uang, bukan uang yang mengendalikan beliau.
Ada kisah menarik lainnya:
  • Seorang wanita datang kepada beliau untuk menjual bajunya dengan harga 100 dirham. Beliau mengatakan bahwa baju itu harganya lebih dari 100 dirham. Wanita itu menaikkan harganya menjadi 200 dirham. Beliau mengatakan bahwa harga baju itu lebih dari 200 dirham. Wanita itu menaikkan harganya menjadi 300 dirham. Beliau mengatakan bahwa harga baju itu lebih dari 300 dirham. Wanita itu menaikkan harganya menjadi 400 dirham. Beliau mengatakan bahwa harga baju itu lebih dari 400 dirham. Kemudian wanita itu berkata, "Apa engkau ingin mempermainkanku?". Kemudian datang seorang pembeli lain, lalu Imam Abu Hanifah bertanya kepadanya, "Menurutmu, berapa harga baju ini?". Laki-laki itu menjawab, "Harganya sekitar 500 dirham, dan aku akan membeli baju ini!".
  • Seorang wanita tua datang kepada beliau untuk membeli sebuah baju yang harganya murah. Beliau beliau memberikan baju sutra terbaik dengan harga 4 dirham. Wanita itu tidak percaya kalau harga baju itu 4 dirham. Belilau kemudian menjelaskan bahwa beliau mempunyai dua buah baju seperti itu, dan yang satunya laku dengan harga hampir dua baju kurang 4 dirham, jadi beliau akan kembali modal apabila menjual baju itu dengan harga 4 dirham.
Selain seorang syeikh, beliau juga pedagang, selain itu beliau biasa melakukan perjalanan jauh. Beliau melakukan haji sebanyak 55 kali. Haji beliau jadikan sebagai sarana untuk bertemu dengan guru-gurunya. Perjalanan itu juga yang mengenalkan beliau kepada berbagai aliran dalam Islam seperti Khawarij, Alawit, Mu’tazilah, dll.

Beliau adalah orang yang sangat suka bermasyarakat. Sesudah subuh beliau memberikan pelajaran. setelah itu beliau akan keluar masjid mengunjungi orang-orang yang sakit, membantu orang yang membutuhkan bantuannya, menjawab pertanyaan yang disampaikan kepadanya, melakukan ziarah kepada yang meninggal dan lain-lain. Malamnya beliau mengisolasi diri untuk tahajud dan baca Qur’an.

Berikut ini ada dua kisah menarik tentang pergaulannya ditengah masyarakat:
  • Pada masanya ada orang yang bilang bahwa Utsman adalah orang Yahudi. Orang ini dinasehati oleh banyak orang, tapi dia tetap keras kepala. Imam Abu Hanifah kemudian datang kepadanya dan menyampaikan bahwa ada seorang laki-laki yang ingin meminang anak perempuannya. Laki-laki ini shaleh, akhlaknya baik, pemalu, rajin beribadah termasuk rajin shalat malam, hafal Al-Qur'an dll. Laki-laki ini sangat senang dengan gambaran calon menantu yang digambarkan oleh Imam Abu Hanifah. Kemudian Imam Abu Hanifah berkata: "Tapi ada satu masalah, dia adalah seorang Yahudi". Laki-laki tersebut kemudian mengatakan bahwa tidak mungkin dia menikahkan anaknya dengan orang Yahudi. Beliau kemudian berkata, "Mana yang lebih baik, engkau atau Rasulullah? Rasulullah saja menikahkan dua orang anak perempuannya kepada "Yahudi" ini" - yaitu Utsman bin Affan. Laki-laki itu langsung menyadari kesalahannya.
  • Beliau memiliki tetangga yang masih bujang. Dia suka minum alkohol sendirian di rumahnya. Ketika dia minum, dia akan mabuk. Ketika mabuk dia akan bersyair:
          Mereka mengabaikanku,
          Hanya jika mereka tahu siapa yang mereka abaikan ...........
Hal itu dilakukannya dari malam ke malam, yang tentu saja hal ini mengganggu tetangganya (Imam Abu Hanifah). Tapi pada suatu malam, Imam Abu Hanifah tidak mendengar syair dari tetangganya. Setelah mencari tahu, rupanya dia semalam ditangkap oleh petugas keamanan yang mengetahui bahwa tetangganya mabuk-mabukan dan dirumahnya ditemukan alkohol. Imam Abu Hanifah lalu menaiki keledainya dan pergi ke istana Amir Kufah. Amir Kufah mendengar kedatangan Imam Abu Hanifah langsung menyambut beliau dan menanyakan apa maksud kedatangan beliau. Beliau mengatakan, "Ya amir, engkau menangkap tetangga-ku, aku ingin dia dibebaskan. "Hanya itu?" jawab Amir Kufah. "Kalau demikian, aku akan membebaskan semua orang yang kami tangkap kemarin". Setelah dibebaskan, sang tetangga diajak naik dibelakang keledainya. Setelah tetangganya duduk, Imam Abu Hanifah mengatakan: "Aku berharap aku tidak mengabaikanmu". Mendengar ucapan imam tersebut, sang laki-laki langsung menyadari kekeliruannya dan dia menjadi salah satu diantara ahli ibadah.