Jumat, 11 Agustus 2017

Ma'rifatun Nabi - Mengenal Nabi SAW


Dalam bahasan sebelumnya kita membahas ilmu yang harus dimiliki agar kita tidak merugi yaitu:

  • Mengenal Allah
  • Mengenal Nabi
  • Mengenal Agama Islam

Mengenal Nabi adalah mengenai masalah beriman kepada beliau. Kutipan dari buku Utsul ats-Tsalatsah: Ketahuilah, wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah mengetahui tiga masalah ini dan mengamalkannya. Yang pertama bahwa Allah SWT telah menciptakan kita dan telah memberikan rizki kepada kita dan tidak meninggalkan kita begitu saja, akan tetapi Allah mengutus rasul kepada kita. barang siapa mematuhinya masuk surga dan barangsiapa yang menentangnya akan masuk neraka.

Ini adalah ilmu yang sifatnya fardhu 'ain, ilmu yang wajib diketahui oleh setiap Muslim. 

Prinsip dalam keimanan dan hubungannya dengan keimanan kita kepada Rasulullah SAW. Prinsip pertama: Allah SWT tidak menciptakan alam semesta ini tanpa tujuan. 

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Q.S. Al Mu'minun, 23: 115)

Ini adalah pertanyaan untuk mengingkari. Allah mengingkari penciptaan tanpa tujuan. Allah juga mengingkari bahwa manusia tidak kembali kepada-Nya. 

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.(Q.S. Shad, 38: 27)

Jadi orang yang beranggapan penciptaan itu tidak ada hikmahnya sama dengan anggapan orang-orang kafir. 

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Q.S. Al Qiyamah: 36)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imran, 3: 190-191)

Allah memberikan kemuliaan kepada manusia

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S. Al Israa', 17: 70)

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (Q.S. At-Tiin : 4)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.S. An Nahl, 16: 78)

Al-Hidayah
  • Al-Fithrah - naluri / insting, tidak perlu diajarkan, bisa tahu dengan sendirinya. Aneh kalau ada profesor yang bilang bahwa LGBT adalah fitrah. Fitrah ini belum menunjukkan kemuliaan manusia. Binatang juga punya naluri dan insting. 
  • Al Hawaas - indera. Allah mengeluarkan kita dari perut ibu tidak tahun apa-apa, lalu Allah memberi indera. Indera makhluk lain bisa lebih baik dari indera manusia. Anjing pelacak, indera penciumannya lebih baik.
  • Akal - akal masih punya kelemahan karena hanya bisa bicara dalam hal-hal yang dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu
  • Ad-Diin (agama). Disinilah peran para utusan. Utusan inilah yang kita sebut Nabi dan Rasul.
Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan (Q.S. Fathir, 35: 24)

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An Nisa, 4: 165)

Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (Q.S. Al Mulk, 67: 10)

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.S. At Taubah, 9: 128)

Kalau diutus malaikat, manusia akan beralasan. Ketika yang diutus adalah manusia, maka mereka tidak ada alasan lagi. Nabi tidak mau menyusahkan. Ada yang merasa berat dalam menjalankan agama. Puasa cuma sebulan dalam setahun. Haji cuma sekali seumur hidup, itupun bagi yang mampu. Diakhir hayatnya Rasulullah ingat pada umatnya. 

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al Ahzab, 33: 21)

Dalam ayat ini Allah ingin kita benar-benar meneladani Rasulullah. Rasulullah adalah contoh yang bukan cuma diatas kertas. Karakter harus ada contohnya. Semua kata, perbuatan, diam dan lupanya beliau jadi hukum untuk kita. Lupanya Rasulullah dalam shalat jadi hukum untuk kita (contohnya sujud sahwi).

Kita tidak punya contoh siapa yang benar-benar mengamalkan Pancasila. Nabi ini sosok yang sangat sempurna, semakin dikaji semakin kita tahu bahwa beliau adalah sangat sempurna. Manusia selain Nabi semakin kita pelajari kehidupannya akan ketahui keburukannya. Kita enak, apa saja ada pada diri Nabi. 

Orang yang dimurkai adalah adalah orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya.