Sabtu, 10 Februari 2018

Pembahasan Hadits ke-7 Arba'in Nawawi - Ustadz Suriani Jiddy, Lc (2)


Nabi SAW bersabda: Agama ini adalah nasehat. Kami bertanya bagi siapa? Bagi Allah, bagi Rasul-Nya, bagi Al-Qur’an, bagi para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya. (H.R. Muslim)

Agama adalah nasehat. Nasehat dalam bahasa Arab memiliki makna yang luas. Lebih luas dari apa yang kita pahami dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, nasehat diartikan sebagai ajaran yang baik. Misalnya nasehat orang tua kepada anaknya.

Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan". (Q.S. Hud, 11: 34)

Kewajiban kita adalah menyampaikan nasehat, hidayah Allah yang memberikan.

Mereka berkata: "Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya. (Q.S. Yusuf, 12: 11)

Ini adalah cara saudara Yusuf untuk membujuk ayahnya agar mengizinkan mereka membawa Yusuf untuk bermain. Nasehat disini berarti “menginginkan kebaikan”.

 Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua", (Q.S. Al A’raaf, 7: 21)

 Godaan syaitan bukan dengan jalan melarang Adam untuk melakukan sesuatu, tapi justru meyakinkan Adam bahwa dia menginginkan kebaikan untuk Adam.

Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat". (Q.S. Al A’raaf, 7: 79)

"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui". (Q.S. Al A’raaf, 7: 62)

 Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (Q.S. At-Tahrim, 66: 8)

Nashaha artinya murni. Nasehat disini artinya yang murni, yang bersih. Taubatan nasuha adalah taubat yang sebenar-benarnya.

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (Q.S. At-Taubah, 9: 91)

Nasehat disini diartikan dengan berlaku ikhlas. Ikhlas kepada siapa? Kepada Allah dan Rasul-Nya.
Bagaimana memberi nasehat untuk Allah, Rasul dan Al-Qur’an yaitu berlaku ikhlas.

Qurtubi: Nasehat bagi Allah adalah benarnya keyakinan terhadap keesaan Allah SWT dan memurnikan niat dalam beribadah kepada-Nya.

Menurut Imam Nawawi, nasehat bagi Allah adalah
·         Beriman kepada Allah SWT
·         Tidak menyekutukan Allah SWT.
·         Memurnikan sifat-sifatnya.
·         Menetapkan sifat-sifat yang sempurna bagi Allah.
·         Meniadakan sifat-sifat yang tidak sempurna bagi Allah.
·         Taat dan tidak berbuat maksiat.
·         Cinta dan benci karena Allah
·         Menolong orang-orang yang mentaati-Nya, memusuhi orang yang menentangnya dan memerangi orang yang mengingkarinya.
·         Mengakui dan mensyukuri segala nikmatnya.
·         Mengikhlaskan semua amal perbuatan kepada Allah SWT
·         Mengajak orang lain untuk melakukan semua yang disebutkan diatas.

Kita tidak dikatakan beriman, sebelum kita menjauhi perkara-perkara yang bisa menjerumuskan kita pada kemusyrikan.

Ikatan iman yang paling kokoh adalah iman karena Allah dan benci karena Allah. Jangan salah mencinta dan membenci. Dalam buku aqidah ada masalah cinta dan benci karena Allah yaitu dalam masalah al wala’ wal bara’ (cinta dan benci). Wala’ kita adalah kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman.

Agar cinta tidak sia-sia, jadikan cinta itu karena Allah.

Manusia kalau tidak menyembah Allah pasti menyembah setan (thaghut).

“...Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus...” (Q.S. Al Baqarah, 2: 256)

Rasulullah diberikan mu’jizat – kalimat yang singkat tapi maknanya luas. Dalam hadits ini kita tahu bahwa nasehat juga menyangkut masalah cinta dan benci.

Istighfar yang paling baik adalah sayyidul istighfar. Diantara sayyidul istighfar adalah mengakui nikmat Allah kepada kita.

“abu u laka bini’mati alayya” kita mengakui nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Orang yang tidak mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya adalah orang yang kufur.

Amal perbuatan adalah ibadah dan bukan ibadah. Makan, cari nafkah, bukan ibadah. Keduanya harus diikhlaskan kepada Allah SWT. Amal perbuatan yang non ibadah agar bisa menjadi ibadah. Disinilah urgensi ikhlas.

Kalau kita meniatkan amal perbuatan kita karena Allah, maka kita akan memilih amal perbuatan yang akan kita lakukan. Misalnya perbuatan yang halal. Tidak mungkin dia melakukan perbuatan yang dilarang Allah SWT. Tidak mungkin mencuri ikhlas. Tidak mungkin “nyabu” ikhlas.

Kita dinamakan Muslimin oleh Allah. Kita adalah umat terbaik. Kita harus selektif. Tidak semua makanan, kita makan. Kita semua profesi kita lakoni. Karena tidak sedikit pekerjaan yang tidak halal. Kuncinya mengikhlaskan. Ini adalah cara kita menjaga diri dari perbuatan yang dilarang.

Rasulullah SAW setelah habis shalat Subuh membaca wirid:

Aku meminta kepada Engkau: ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal perbuatan yang diterima.
Dakwah termasuk nasehat bagi Allah.

Intinya: Nasehat untuk Allah adalah keimanan. Dalam hadits yang kedua kita sudah membahas masalah iman.
Nasehat kepada Rasul dan Qur’an adalah beriman kepada Rasul dan Qur’an tersebut.

Iman kepada Allah meliputi:
1.       Mengimani eksistensi-Nya (wujud-Nya)
2.       Mengimani rububiyah-Nya
3.       Mengimani uluhiyah-Nya
4.       Mengimani Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat
Keimanan kepada wujud Allah juga dimiliki oleh orang-orang musyrik.