Postingan

Ketika Seorang Perempuan Yahudi Berdiri Membela Palestina

Gambar
Di tengah perdebatan yang semakin panas mengenai Palestina, ada satu kesaksian yang menarik perhatian dunia. Bukan karena disampaikan dengan suara lantang atau penuh kemarahan, melainkan karena ketenangan, kejernihan berpikir, dan keberanian moral yang ditunjukkan oleh seorang perempuan muda Yahudi bernama Yasmine Johnson . Saya menyaksikan kesaksiannya dalam sidang Royal Commission into Anti-Semitism and Social Cohesion di Australia. Selama hampir satu jam, ia menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tajam mengenai pandangannya tentang Palestina, Zionisme, kebebasan berpendapat, hingga tuduhan antisemitisme. Namun yang membuat saya benar-benar kagum bukanlah semata-mata isi argumennya, melainkan cara ia menyampaikannya. Tidak terlihat emosi yang meledak-ledak. Tidak ada nada marah. Tidak pula usaha menyerang lawan bicara secara pribadi. Sebaliknya, ia menjawab hampir setiap pertanyaan dengan tenang, sistematis, dan konsisten. Seorang Yahudi yang Memisahkan Agama dan Negara Yasmine Johns...

Cara Terbukti Membuat Kebiasaan Baru Menempel (Tanpa Harus “Niat Baja”)

Gambar
  Pernah merasa semangat di awal—misalnya mau olahraga, makan lebih sehat, atau belajar rutin—tapi seminggu kemudian kembali ke pola lama? Itu wajar. Banyak orang mengira kunci kebiasaan adalah motivasi besar dan kedisiplinan keras . Padahal, menurut ilmuwan perilaku dari Stanford University, BJ Fogg , kebiasaan justru lebih mudah terbentuk jika kita memulainya dari hal yang sangat kecil , lalu “ditanam” di rutinitas harian. Gagasan ini dibahas dalam episode Life Kit dari NPR berjudul A proven method to make a habit stick (13 Januari 2026). Intinya: kalau ingin kebiasaan baru bertahan, jangan mulai dari target besar. Mulailah dari versi yang paling mudah—bahkan terlihat “sepele”. Apa Itu Kebiasaan? BJ Fogg mendefinisikan kebiasaan sebagai sesuatu yang kita lakukan otomatis , tanpa banyak berpikir atau menimbang-nimbang. Jadi, yang menentukan kebiasaan bukan seberapa sering (harian/mingguan/tahunan), tetapi seberapa “otomatis” kita melakukannya. Contohnya: Menggosok gig...

Kapuas Bisa Meniru Siprus: Deteksi Dini Kanker Payudara yang Menggabungkan Sistem Layanan + Edukasi Kreatif Know Your Lemons

Gambar
  Kanker payudara sering terlambat diketahui bukan karena orang tidak peduli, tetapi karena banyak dari kita tidak tahu tanda-tandanya dan tidak yakin harus berbuat apa saat ada perubahan pada payudara. Banyak orang juga mengira tanda kanker payudara hanya “benjolan”, padahal gejalanya bisa beragam. Akibatnya, pemeriksaan sering tertunda—dan ketika akhirnya diperiksa, kondisinya sudah lebih berat. Padahal, jika ditemukan lebih awal, penanganan jauh lebih efektif. Karena itu, strategi yang paling masuk akal untuk daerah adalah memperkuat upaya promotif dan preventif : meningkatkan pengetahuan warga, membangun kebiasaan deteksi dini, lalu memastikan layanan kesehatan siap menindaklanjuti dengan cepat. Artikel ini menggabungkan dua inspirasi penting: Praktik penguatan skrining dan akses layanan dari Siprus (Cyprus) , yang menekankan deteksi dini dan skrining terorganisir sebagai cara mengurangi ketimpangan akses dan memperbaiki hasil kesehatan.  Pendekatan edukasi kreatif Know ...

Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

Dari Potongan Amplop Lama ke Harta Karun Digital: Menemukan Kembali “Endless Bliss” dari Turki

Gambar
  Senin, 16 Februari 2026, saya mengalami momen kecil yang terasa seperti “kejutan dari masa lalu”. Saat sedang membuka-buka email, istri saya datang membawa sepotong amplop lama. Di potongan amplop itu masih ada perangko dan—yang paling penting—alamat pengirimnya. Katanya, amplop itu ditemukan ketika beliau sedang membongkar barang-barang lama untuk dibereskan. Ternyata, potongan amplop itu berasal dari IHLAS VAKFI (sering juga ditulis Ihlas Vakfi ), dengan alamat: Darussefaka Ca. No: 57 P.K. 35, 34262-Fatih/ISTANBUL TEL: 0.212.523 45 56, TURKEY Saya langsung penasaran: ini alamat siapa, dan dulu saya pernah menerima apa dari sana? “Ini perusahaan alat rumah tangga?”—Ternyata bukan Karena penasaran, saya mencoba mencari alamat tersebut lewat Copilot. Jawaban awalnya cukup mengejutkan: Copilot menyebut alamat itu sebagai perusahaan yang bergerak di produksi dan distribusi peralatan rumah tangga. Tapi saya merasa ada yang tidak cocok. Lalu saya jelaskan bahwa alamat terse...

The Salahuddin Generation (Ep. 11): Salahuddin’s Legacy — Warisan Terbesar Bukan Tahta, Bukan Kota, Bahkan Bukan Yerusalem

Gambar
Ia mengalahkan para raja. Ia membebaskan Yerusalem. Ia mematahkan Perang Salib Ketiga. Tetapi pada akhirnya—apa yang paling ia takutkan? Apa yang paling ia rindukan? Dan apa yang paling ia titipkan? Episode penutup ini menjawab dengan kalimat yang menohok: yang paling besar dalam pandangan Salahuddin bukanlah kota, bukan kejayaan, bahkan bukan Yerusalem sebagai “trofi” sejarah. Yang paling besar adalah Allah , dan segala yang selain-Nya hanyalah jalan. 1) Mars Terakhir Menuju Yerusalem: “Tidak Ada Lagi yang Datang Menolong” Setelah bertahun-tahun perang, pasukan Frank akhirnya mencoba mengambil “hadiah utama”: Yerusalem . Salahuddin tahu, ini bukan sekadar pertempuran biasa. Maka ia mengumpulkan tentara dan berkata tegas: kalian adalah tentara Islam hari ini, darah, harta, dan keluarga kaum Muslim bergantung pada kalian, tidak ada Muslim lain yang akan datang menolong, ini amanah yang Allah letakkan di pundak kalian. Pidato ini bukan untuk membakar emosi semata, t...

Lazismu Kapuas Salurkan Bantuan untuk Pendidik dan Siapkan Program Edukasi Siswa

Gambar
  ​Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Kapuas menunjukkan komitmen nyatanya dalam mengelola amanah dana umat. Melalui program terbaru, Lazismu menyalurkan bantuan kepada para pendidik di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka. Pengelolaan dana ini dilakukan secara transparan dan tepat sasaran untuk memastikan bahwa setiap rupiah dari muzakki memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan para pejuang pendidikan. ​Suasana penyaluran bantuan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, diisi dengan kegiatan tausiyah, buka puasa bersama, hingga shalat Maghrib berjamaah. Para guru yang menerima manfaat menyambut positif program ini, karena tidak hanya membantu secara materi, tetapi juga mempererat tali persaudaraan atau ukhuwah di lingkungan Muhammadiyah. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan nilai  ta’awun  atau tolong-menolong dalam memperkuat ekosistem dakwah di Kabupaten Kapu...

The Salahuddin Generation (Ep. 10): Salahuddin vs Richard the Lionheart — Menang Tanpa Menjadi Monster

Gambar
Jika Ep. 9 mengajarkan bahwa kemenangan memanggil serangan balik, maka Ep. 10 memperlihatkan sesuatu yang lebih berat: uji moral ketika perang menjadi sangat kejam . Di episode ini, Salahuddin diuji bukan hanya oleh pasukan Eropa yang semakin besar, tetapi oleh: pemimpin Muslim yang sibuk soal gelar , keputusan pahit ketika kota jatuh, pengkhianatan yang memicu pembantaian, dan godaan terbesar bagi seorang pejuang: menjadi seperti musuhnya. Salahuddin menolak itu. Dan justru di situlah salah satu “kemenangan” terbesarnya. 1) Raja-raja yang Bersumpah Mematahkan Salahuddin Ancaman besar datang dari dua arah: Pasukan Salib di Acre (Akka) yang tak kunjung selesai. Frederick Barbarossa yang mendarat di Asia Minor, dengan pasukan besar menuju Syam. Narasi menggambarkan fanatisme mereka: sampai bersumpah tidur dengan baju zirah, bahkan menghukum orang yang “berbuat dosa” karena menganggap kekalahan mereka akibat kesalahan moral mereka sendiri. Namun yang mengua...

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)