Postingan

Menampilkan postingan dengan label kisah inspiratif

Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Antara Impian Sepak Bola dan Kalam Allah: Kisah Inspiratif Qari Ibrahim Kembali Memeluk Al-Quran

Gambar
  Bayangkan Anda berada di puncak impian masa muda. Sebuah beasiswa dua tahun di akademi sepak bola ternama ada di depan mata—sebuah tiket emas menuju karir profesional. Namun, pada saat yang sama, sebuah kesedihan mendalam menghantam hati: Anda telah melupakan Al-Quran yang pernah Anda hafal di luar kepala. Pilihan mana yang akan Anda ambil? Inilah dilema yang dihadapi oleh Qari Ibrahim Idris, seorang pemuda yang perjalanannya dengan Al-Quran menjadi sumber inspirasi bagi jutaan orang. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa pengorbanan untuk Allah tidak akan pernah sia-sia, dan cinta pada Al-Quran dapat mengubah jalan hidup seseorang dengan cara yang paling menakjubkan. Perjalanan yang Hilang dan Ditemukan Kembali Di bawah bimbingan ayahnya, Qari Ibrahim menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Quran pada usia 12 tahun di London, Inggris. Tumbuh di lingkungan di mana kakaknya juga seorang hafiz, menghafal Al-Quran terasa seperti rutinitas yang wajar baginya. Namun, layaknya anak muda, tujuannya...

Dari Potongan Amplop Lama ke Harta Karun Digital: Menemukan Kembali “Endless Bliss” dari Turki

Gambar
  Senin, 16 Februari 2026, saya mengalami momen kecil yang terasa seperti “kejutan dari masa lalu”. Saat sedang membuka-buka email, istri saya datang membawa sepotong amplop lama. Di potongan amplop itu masih ada perangko dan—yang paling penting—alamat pengirimnya. Katanya, amplop itu ditemukan ketika beliau sedang membongkar barang-barang lama untuk dibereskan. Ternyata, potongan amplop itu berasal dari IHLAS VAKFI (sering juga ditulis Ihlas Vakfi ), dengan alamat: Darussefaka Ca. No: 57 P.K. 35, 34262-Fatih/ISTANBUL TEL: 0.212.523 45 56, TURKEY Saya langsung penasaran: ini alamat siapa, dan dulu saya pernah menerima apa dari sana? “Ini perusahaan alat rumah tangga?”—Ternyata bukan Karena penasaran, saya mencoba mencari alamat tersebut lewat Copilot. Jawaban awalnya cukup mengejutkan: Copilot menyebut alamat itu sebagai perusahaan yang bergerak di produksi dan distribusi peralatan rumah tangga. Tapi saya merasa ada yang tidak cocok. Lalu saya jelaskan bahwa alamat terse...

Belajar dari BJ Fogg: Seni Mengenal Peserta Sebelum Mengajar

Gambar
Gambar ilustratif seorang pemimpin (pria) yang sedang menyapa hangat anggota timnya satu per satu di sebuah ruangan rapat. Terlihat ekspresi ramah, penuh perhatian, dan suasana saling menghargai. Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah email dari Dr. BJ Fogg, seorang pakar perilaku yang dikenal luas dan mengajar di Stanford University. Dalam email tersebut, ia berbagi praktik sederhana namun sangat berdampak: mengenal setiap peserta sebelum proses belajar dimulai. Ia memulai dengan kisah tahun 1981, saat ia masih mengawali karier mengajarnya. Ketika itu, sesi perkenalan masih bersifat umum dan standar — nama dan sedikit fakta unik. Namun seiring waktu, ia merasa pendekatan tersebut kurang bermakna. Ia pun mengubah pendekatannya secara drastis. Kini, bahkan sebelum kelas dimulai, ia telah mempelajari latar belakang para peserta melalui formulir, profil LinkedIn, atau situs pribadi mereka. Tak berhenti di situ, ia juga mengatur sesi Zoom 15 menit atau pertemuan kelompok sehari sebelum...

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"