Umar bin Abdul Aziz: Dua Tahun Kepemimpinan yang Mengubah Umat

Gambar
  Sepanjang sejarah, kekuasaan sering menjadi ujian berat bagi manusia. Ketika seseorang memiliki kewenangan politik, kekayaan besar, dan berbagai keistimewaan, godaan untuk mengutamakan kepentingan pribadi dapat mengalahkan komitmen terhadap keadilan. Namun, Umar bin Abdul Aziz menunjukkan jalan yang berbeda. Ketika menjadi khalifah pada masa Dinasti Umayyah, ia tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Sebaliknya, ia berusaha memperbaiki pemerintahan, mengembalikan kekayaan negara kepada rakyat, serta menegakkan keadilan. Masa pemerintahannya memang singkat, sekitar dua tahun. Akan tetapi, perubahan yang dilakukannya meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Islam. Ketika Kekayaan Negara Menjadi Keistimewaan Penguasa Pada saat Umar bin Abdul Aziz menerima jabatan khalifah, pemerintahan Dinasti Umayyah telah berkembang menjadi kekuasaan yang diwariskan melalui garis keluarga. Di lingkungan elite pemerintahan, kemewahan dan kekayaan menjadi lambang kedu...

Bincang-bincang dengan pahlawan devisa

Ibu Fulanah (bukan nama sebenarnya) sudah sejak 3 hari yang lalu sampai di Bandara Soekarno Hatta, tapi karena dikatakan kepadanya bahwa tiket ke Solo sudah habis, dia harus menunggu sampai pagi untuk untuk akhirnya mendapatkan tiket pesawat ke Solo dengan harga Rp 1.300.000. Beliau mengungkapkan bagaimana tidak ramahnya petugas di bandara kedatangan menyambut mereka. Apapun yang dilakukan oleh petugas semuanya dihargai dengan uang. Dia menghabiskan uang lebih dari 2 juta rupiah di bandara ini sejak kedatangannya tiga hari yang lalu.


Beliau sudah bekerja di Saudi Arabia sejak delapan tahun yang lalu di dua tempat yang berbeda. Saat ini beliau bekerja disebuah rumah yang cukup besar dan dia harus merawat dua orang tua yang mengalami penyakit kejiwaan. Karena ketelatenannya dalam merawat orang tua tersebut, sang majikan sangat sayang kepadanya. Saat ini gajinya 1.800 riyal (Rp 4.500.000 dengan kurs 1 riyal = Rp 2.500). Tuannya berjanji bila dia mau kembali lagi ke Indonesia setelah cuti selama 1,5 bulan ini, gajinya akan dinaikkan menjadi 2000 riyal (5 juta rupiah).

Pekerjaan yang sangat melelahkan ini dilakoninya karena suaminya tidak memperhatikan keluarganya lagi (tidak memberikan nafkah lahir dan batin) dan kawin lagi dengan wanita lain. Ketika ditanya mengapa beliau tidak menikah lagi. Beliau mengaku bahwa beliau takut mengalami hal yang sama. Beliau sekarang bekerja untuk menyekolahkan anaknya. Anak pertama sudah berhasil masuk ke sekolah kepolisian setelah membayar sebanyak 40 juta rupiah. Sedangkan anak kedua yang juga laki-laki baru masuk SMA.

Setiap bulan gajinya ditransfer ke rekening orang tuanya di Solo. Orang tuanya lah yang mengatur keuangan bagi anak-anaknya yang dititipkan kepada orang tuanya. Beliau berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Pada kepulangan kali ini saja, beliau membawakan satu buah Netbook untuk anaknya yang masuk SMA. Beliau berkata kepada orang tuanya bahwa dia bekerja ini untuk anaknya. Jadi dia meminta agar orang tuanya tidak terlalu keras kepada cucunya (anak Ibu Fulanah).

Dengan diberhentikannya penyaluran tenaga kerja ke Saudi Arabia, tuannya sangat berharap agar dia bisa kembali bekerja disana. Bahkan untuk cuti kali ini dia sudah dibelikan tiket pulang pergi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)