Umar bin Abdul Aziz: Dua Tahun Kepemimpinan yang Mengubah Umat

Gambar
  Sepanjang sejarah, kekuasaan sering menjadi ujian berat bagi manusia. Ketika seseorang memiliki kewenangan politik, kekayaan besar, dan berbagai keistimewaan, godaan untuk mengutamakan kepentingan pribadi dapat mengalahkan komitmen terhadap keadilan. Namun, Umar bin Abdul Aziz menunjukkan jalan yang berbeda. Ketika menjadi khalifah pada masa Dinasti Umayyah, ia tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Sebaliknya, ia berusaha memperbaiki pemerintahan, mengembalikan kekayaan negara kepada rakyat, serta menegakkan keadilan. Masa pemerintahannya memang singkat, sekitar dua tahun. Akan tetapi, perubahan yang dilakukannya meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Islam. Ketika Kekayaan Negara Menjadi Keistimewaan Penguasa Pada saat Umar bin Abdul Aziz menerima jabatan khalifah, pemerintahan Dinasti Umayyah telah berkembang menjadi kekuasaan yang diwariskan melalui garis keluarga. Di lingkungan elite pemerintahan, kemewahan dan kekayaan menjadi lambang kedu...

Semangat yang tinggi untuk melanjutkan pendidikan

Ketika pulang dari Palangka Raya menuju ke Kapuas, admin satu mobil dengan seorang perawat yang turun dari Kecamatan Antang Kalang, Kotawaringin Timur, menuju ke Banjarmasin. Beliau sedang menyelesaikan proposal skripsi S-1 Keperawatan. Sebagai petugas kesehatan di Puskesmas Perawatan di kecamatan tersebut, beliau berinisiatif untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mumpung masih muda dan masih ada biaya. Untuk pulang pergi ke Banjarmasin, biaya transportasi yang harus dikeluarkan kurang lebih Rp 300.000. Dan hal ini dilakoninya setiap minggu. Jadi kita bisa bayangkan berapa besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menempuh pendidikan tersebut.

Admin menjadi teringat dengan teman-teman di rumah sakit dan puskesmas yang juga berasal dari daerah-daerah hulu dan daerah-daerah transmigrasi. Banyak anak-anak yang berasal dari daerah hulu Kapuas bersedia untuk tinggal di rumah saudara atau di rumah orang yang bersedia menampung mereka dan mengijinkan mereka untuk melanjutkan pendidikan. Mereka akan membantu pekerjaan rumah tangga di rumah yang mereka tempati, sampai mereka menyelesaikan pendidikan. Semangat seperti ini sudah banyak yang membuahkan hasil. Banyak anak-anak yang berasal dari hulu, dapat menyelesaikan pendidikan D-3, bahkan S-1 mereka, kemudian mengabdikan diri mereka untuk masyarakat Kabupaten Kapuas.

Semangat ini jugalah yang membuat banyak anak-anak transmigrasi yang berhasil menempuh pendidikan tinggi dan kembali mengabdi di tengah masyarakat. Diantara mereka ada yang menjadi guru, perawat, dokter, polisi, tentara dan lain-lain. Semoga semangat ini tetap terpupuk dikalangan anak-anak muda kita, dalam rangka memajukan Kapuas tercinta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)