Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Jatuh Bangun UEP Ponpes Al-Amin

Tetap bersemangat, mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Usaha Ekonomi Produktif (UEP) yang dijalankan oleh Pondok Pesantren Al-Amin Kapuas. Sudah berbagai macam kegiatan usaha produktif yang dilaksanakan oleh pondok ini, diantaranya adalah:
  1. Penggemukan Sapi
  2. Budidaya Ayam Arab
  3. Ternak Kambing
  4. Pembuatan Telur Asin
  5. Budidaya Ikan Patin
  6. Penggilingan Padi
  7. Budidaya Ikan Nila
  8. Bengkel Sepeda dan Sepeda Motor
  9. Ternak Itik
  10. Menanam melon, kacang panjang, padi
  11. Pembuatan krupuk slondok
Diantara semua kegiatan diatas, yang masin bertahan adalah:
  1. Ternak kambing (bantuan PT. ASTRA)
  2. Ternak itik (bantuan Departemen Agama)
  3. Pembuatan telur asin (bantuan PT. PLN Cabang Kapuas)
  4. Penggilingan padi (bantuan LM3)
  5. Budidaya patin (bantuan dari Desa Anjir Palambang)
  6. Bengkel sepeda motor (bantuan dari Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Kabupaten Kapuas)
 Jatuh bangunnya pengelolaan UEP telah membuat para guru dan murid menjadi tahan banting. Mereka tetap menunjukkan kinerja yang sangat baik dengan mengelola bantuan-bantuan yang diberikan kepada mereka. Saat ini pihak pondok pesantren sedang mengupayakan agar ada dana yang bisa dimanfaatkan untuk membangun asrama untuk para santri yang menginap di pondok pesantren yang jumlahnya bisa mencapai 80-an orang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"