Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Tetap relijius meski di pedalaman Kapuas

Suasana shalat Maghrib di Masjid Jami' At-Taqwa Desa Jangkang
Suasana relijius dapat kita rasakan ketika memasuki Masjid Jami' At-Taqwa di Desa Jangkang, Kecamatan Pasak Talawang pada saat shalat Maghrib. Meskipun berada di tengah belantara hutan Kalimantan, desa ini masih menunjukkan semangat keberagamaan yang cukup tinggi. Masjid yang dibangun pada tahun 1970-an ini pada mulanya berada di pinggir sungai, tapi karena seringnya banjir, masyarakat bergotong royong untuk membangun masjid di darat. Mereka sama-sama menyumbang untuk pembelian tanah dan membangun masjid. Imam masjid ini adalah warga Desa Jangkang yang baru lulus dari Aliyah di Darussalam, Martapura.
Bangunan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) Desa Jangkang
Menurut keterangan dari salah satu warga, rencananya lulusan Darussalam ini akan mengajarkan kepada anak-anak di Desa Jangkang, membaca Qur'an. Selama ini sudah ada juga lulusan dari Darussalam yang mengajarkan membaca Qur'an di rumahnya. Insya Allah Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) akan menggunakan bangunan yang ada di belakang masjid.
Gereja di Desa Jangkang
Selain kegiatan kaum Muslimin, masyarakat yang beragama Kristen juga memiliki gereja di desa ini. Gereja ini dipimpin oleh Bapak Sekretaris Desa. Beliau bersama dengan istrinya sudah menjadi penetua di gereja ini selama 19 tahun. Banyak yang sudah mencoba untuk mengganti beliau, namun tetap jabatan ini kembali kepada beliau. Mengingat menjadi penetua bukan pekerjaan mudah. Mereka harus menjadi teladan bagi warga disekitarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"