Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Along The Rivers of Central Kalimantan - Buku

Sampul buku "Along The Rivers of Central Kalimantan"
Buku ini dikarang oleh Arnoud H. Klokke, dokter misionaris Protestan yang pernah bertugas di Rumah Sakit Kuala Kapuas dari tahun 1949-1959. Buku ini berisi koleksi foto dokter Klokke ketika beliau melakukan perjalanan menempuh tiga sungai di Kalimantan Tengah yaitu Sungai Kapuas, Sungai Kahayan dan Sungai Rungan.

Daerah-daerah di Kabupaten Kapuas yang ada fotonya dalam buku ini adalah:
  • Kota Baru, Kapuas Tengah 
  • Pujon, Kapuas Tengah
  • Marapit, Kapuas Tengah
  • Sungai Ringin, Kapuas Tengah
  • Tumbang Tukun, Pasak Talawang
  • Tumbang Tihis, Kapuas Hulu
  • Tumbang Bukoi, Mandau Talawang
Foto-foto yang ditampilkan dalam buku ini diantaranya adalah mengenai:
  • Anyaman tikar rotan buatan tahun 1939 oleh Merintje Bahoei dari Marapit, Kapuas Tengah
  • Pantar di Tumbang Bukoi
  • Rumah yang dindingnya dari akar kayu di Tumbang Tihis
  • Indu Kuwik, seorang balian di Tumbang Tukun
  • Huma hai di Sungai Ringin
  • Sandung di Pujon
  • Hampatung di Pujon
Buku setebal 174 halaman ini diterbitkan oleh Museum Volkenkunde (Liefkes-Weegenaar fonds), C. Swartenkot Art Books pada bulan Maret 2012. Warga Kalimantan Tengah yang turut berkontribusi terhadap buku ini adalah Dr. Marko Mahin, dosen di Universitas Kristen Palangka Raya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"