Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

dr. Mursito Bernostalgia di Kuala Kapuas

dr. Mursito Suprapto, SpPD (kiri) dan istri
Pada hari Minggu, 12 Januari 2014, admin dipanggil oleh istri dari depan rumah. Rupanya ada tamu istimewa. Beliau adalah dr. Mursito Suprapto, SpPD, mantan direktur RSUD Kuala Kapuas dari tahun 1975 sampai 1979. Pada awalnya beliau menanyakan rumah ibu Surati, yang merupakan tetangga depan rumah kami, setelah istri saya mengetahui bahwa beliau adalah senior kami, akhirnya istri saya meminta beliau dan istri untuk singgah dulu di rumah kami.

Beliau mulai bekerja sebagai dokter pertama di Pulang Pisau pada tahun 1973. Beliau merupakan dokter pertama di Pulang Pisau. Waktu itu tinggalnya sekitar 500 meter dari Pelabuhan Cukai, Pulang Pisau. Beliau tidak menempati rumah dinas yang disediakan karena dibelakang rumah tersebut masih hutan dengan kayu yang masih besar-besar.

Ketika bertugas sebagai direktur di RSUD Kuala Kapuas, beliau membuat ruang operasi dan instalasi radiologi. Saat ini kedua bangunan tersebut sudah tidak terurus lagi di bagian belakang Akper Pemkab Kapuas. Saat dinas di rumah sakit, beliau tinggal di rumah dinas yang terletak di Ujung Murung.

Perawat dan bidan senior yang pernah bertugas bersama beliau dulu adalah Ibu Surati, Pak Abya dan beberapa nama lain yang admin tidak kenal.

Setelah meninggalkan Kapuas, beliau melanjutkan pendidikan di Universitas Diponegoro, Semarang, mengambil spesialis penyakit dalam. Kemudian beliau menjadi dosen di Universitas Brawijaya, Malang. Saat ini beliau sudah pensiun dan masih praktek di Griya Spesialis, Jl. Nusakambangan 44, Malang; RS. Panti Waluya (RKZ), Jl. Nusakambangan 56, Malang dan RSI Aisyiyah, Jl. Sulawesi 26, Malang.

Komentar

  1. Saya kenal beliau, karena rumah di ujung murung keluarga kami yg menempati (Alm.dr.Benny Sunartono).. Salam..

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"