Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Nasehat Guru Ijai

H. Marino (keempat dari kanan)
Pada kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di Langgar Inayah, Jl. Kapten Pierre Tendean Gg. IXa, Kuala Kapuas, pada hari Senin, 27 Januari 2014, penceramah, Bapak H. Marino menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

  • Saat meninggal tidak bisa ditunda atau dimajukan. Kematian tidak bisa ditebus dengan apapun. Amal saja yang dibawa. Harta akan ditinggal.
  • Suami harus bantu istri agar istri juga bisa melaksanakan shalat berjama'ah
  • Beli pulsa seminggu bisa menghabiskan uang sebanyak Rp 20.000, tapi kalau menyumbang ke masjid saat shalat Jum'at cuma Rp 1.000
  • Kita bisa menyisihkan uang Rp 10.000 sehari untuk beli rokok. Kalau sebulan sudah Rp 300.000. Setahun sudah Rp 3.600.000. Sepuluh tahun sudah Rp 36.000.000. Sedangkan biaya naik haji cuma Rp 35.000.000.
  • Istri yang pertama masuk surga adalah istri yang shalat tepat waktu; berbakti pada orang tua dan berjihad fi sabilillah.
  • Anak paling tidak harus bisa shalat lima waktu dan bisa baca Qur'an
Saat berkunjung ke Sekumpul, Martapura, Kalimantan Selatan, H. Marino mendapatkan nasehat dari Guru Ijai untuk mengamalkan zikir-zikir berikut ini diantara shalat Maghrib dan Isya:
  • Astaghfirullahal adzim, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaik
  • La ilaha illallah
  • Allahmumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama shalaita 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim, wabarik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama barakta 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim fil 'alamina innaka hamidun majid.
  • La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minadzalimin
  • Subhanallah, Walhamdulillah, La ilaha illallahu wallahu akbar. La haula wala quwwata illa billahi 'aliyyil adzim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"