Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Barangay 648 Zone 67 District VI Manila

Ucapan selamat atas keberhasilan dalam ujian sebagai ahli kriminologi
Barangay artinya desa. Saat memasuki kawasan pemukiman Muslim ini, ada rasa senang karena rupanya ada juga kampung yang sebagian besar penghuninya adalah Muslim. Di dekat pintu masuk ada ucapan selamat kepada salah seorang warga kampung yang berhasil lulus ujian sebagai ahli kriminologi. 
Kawasan Muslim yang padat penduduk
Rasa senang, juga diikuti dengan keprihatinan, mengingat kawasan ini merupakan kawasan kumuh. Ini dapat dilihat dari rapatnya rumah-rumah yang ada di kawasan ini. Perumahan bertingkat, padat dan agak becek di bagian dalamnya. 
Tempat parkir tricycle
Disebagian kampung banyak ditemukan tricycle, becak yang menggunakan motor. Nampaknya mereka merupakan salah satu kelompok pengemudi tricycle yang ada di kota Manila ini. 
Jama'ah Tabligh sedang jaulah ke kampung ini
Saat melihat ada toko roti, penulis bertanya kepada salah seorang warga kampung tersebut, apakah semua makanan yang dijual di kampung ini halal? Dengan bersemangat dia membenarkan hal tersebut. Saat penulis berada di toko roti, ada sekelompok orang dari Jama'ah Tabligh yang akan makan di warung tersebut. Mereka mengatakan bahwa mereka sedang melakukan perjalanan ke kampung ini.
Toko roti halal
Mereka bercerita bahwa pernah ada rombongan dari Indonesia yang datang ke Filipina, ke tempat mereka ini. Waktu penulis menanyakan apakah ada diantara mereka yang pernah ke Indonesia, mereka menjawab tidak. 
Tulisan "bismillah" pada tricycle
Simbol Muslim dapat kita lihat di kampung ini dengan adanya masjid yang cukup besar. Selain itu, kita juga dapat melihat adanya tulisan "bismillah" seperti yang tampak pada tricycle diatas. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"