Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Menelusuri Tepian Anjir Serapat

Jalan beton di tepi Anjir Serapat
Sampai awal tahun 2000-an, masih banyak speedboat yang melintasi Anjir Serapat. Setiap speedboat lewat, maka gelombang yang dihasilkannya akan menerpa tepian Anjir Serapat. Tergerusnya tepian anjir membuat pemerintah dengan bantuan asing membangun siring di sepanjang Anjir Serapat. Siring ini berhasil menahan abrasi dari tanah di tepian Anjir Serapat.
Rumah dibantaran anjir
Sekarang suasana di tepian Anjir Serapat sangat tenang, kalau tidak mau dikatakan sepi. Hampir tidak ada klotok yang melewati anjir ini. Kalau dulu banyak WC cemplung yang terlihat di tepian anjir, sekarang sangat sedikit sekali orang yang membuat WC diatas Anjir Serapat.
Jalan buntu di Pal 5 Anjir Serapat
Admin menelusuri jalan kecil di tepian Anjir Serapat dari Km. 8 sampai Km. 5 dimana jalan ini berakhir.
Jembatan ulin penghubung anjir kecil
Diantara desa-desa di tepian Anjir Serapat ada yang dipisahkan dengan sungai kecil. Untuk menghubungkan desa-desa tersebut ada jembatan ulin kecil.
Jembatan yang melintasi Anjir Serapat
Sedangkan untuk menghubungkan sisi kiri dan sisi kanan dari anjir, digunakan jembasi tan ulin yang melintasi Anjir Serapat. Mulai dari Pulau Mambulau sampai Anjir Pal 9 ada jembatan yang melintasi anjir, ada yang terbuat dari ulin dan ada yang sudah terbuat dari beton.

Tembok siring yang dijebol warga
Ketika para tukang membuat siring Anjir Serapat, mereka kurang memperhatikan keperluan warga setempat terhadap air. Mereka membuat tembok antara anjir dengan pemukiman. Akhirnya masyarakat melubangi tembok anjir yang berada di depan rumah mereka untuk mengakses sungai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"