Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Todongan yang tidak bisa ditolak

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, hari pertama Idul Fitri dijalani dengan mengunjungi rumah para sesepuh dan teman-teman di Kuala Kapuas. Masalah yang sering dialami adalah kalau ditawari makan di masing-masing rumah yang dikunjungi. Kami sekeluarga berencana untuk tahun ini sebisa mungkin menolak tawaran untuk makan dengan cara halus. Hal ini terpaksa dilakukan mengingat kebiasaan "harus" makan saat mengunjungi rumah teman atau tetangga membuat anak-anak tidak suka untuk berkunjung ke rumah para tetangga dengan alasan "sakit perut" karena kekenyangan.

Pada kunjungan pagi hari setelah shalat Idul Fitri, kami hanya makan sedikit di rumah pertama. Makan sedikit kue pada rumah kedua dan ketiga. Pada rumah keempat ada yang cuma makan es buah dan ada yang makan dua tusuk sate dengan sedikit lontong. Pada rumah yang kelima kami cukup menikmati es buah dan kacang saja. Nampaknya strategi untuk tidak terlalu kenyang pagi ini cukup berhasil.

Setelah shalat Ashar, kunjungan ke tetangga dimulai. Pada rumah pertama, kami hanya menikmati es buah. Tapi di rumah kedua, kami langsung disajikan lontong plus sayur dan ikan haruan. Karena sudah disajikan di depan orang banyak, kami mau tidak mau memakannya dengan senang hati. Pada rumah ketiga kami kembali ditodong dengan ketupat kandangan, kami juga memakannya dengan senang hati. Pada rumah keempat kami ditawari untuk menikmati bakso, tapi kami memilih untuk memakan es buah saja.

Setelah itu kami langsung pulang ke rumah untuk mempersiapkan shalat Maghrib. Nampaknya strategi untuk mengurangi makan saat lebaran ini kurang berhasil. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"