Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Anak-anak mulai ramaikan langgar

Anak-anak sedang shalat Maghrib di Langgar Al-Inayah
Kalau dulu kita sering mengatakan bahwa langgar / mushola / masjid banyak dipenuhi oleh orang-orang tua. Sekarang fenomena ini mulai bergeser. Gambar diatas menunjukkan bahwa anak-anak sekarang mulai mengambil tempat dari orang tua tersebut.

Pada mulanya, anak-anak memang suka bercanda ketika mereka sedang shalat. Tapi setelah berjalan beberapa bulan, sudah terjadi seleksi dimana mereka makin lama makin tertib dalam melaksanakan shalat. Apalagi suasana dilanggar sangat mendukung keberadaan mereka.

Untuk kasus diatas, mereka adalah anak-anak yang mengikuti TPA Al-Inayah yang terletak di Jalan Kapten Pierre Tendean Gg. X, Kuala Kapuas. Mereka sedang mengerjakan shalat Maghrib di Langgar Al-Inayah. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"