Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

3 ilmu yang wajib dipelajari




Oleh: Guru Syamsul Bahri

3 macam ilmu yang wajib kita pelajari dan melaksanakannya bila dia sudah baligh. Bila tidak dipelajarinya dia akan berdosa. Ilmu tersebut adalah:
·         Ilmu Tauhid
·         Ilmu Fiqih
·         Ilmu Tasawuf

Sabda Rasulullah: menuntut ilmu itu wajib atas setiap orang beriman laki-laki dan perempuan.
Belajar ilmu itu ada kitabnya. Terkadang ada yang tidak ada kitabnya, hanya pakai hapalan saja. Terkadang apa yang disampaikan tidak sesuai dengan kitab. Jangan sembarang mengajarkan ilmu. Kitab yang kita ajarkan itu, pernah kita belajar dengan guru. Apalagi masalah ketuhanan, kalau salah orang bisa masuk neraka.

Ilmu Tauhid, kitab yang biasa dibaca adalah Kitabul Mubtadi’in. Bila dipelajari dari awal sampai selesai, kewajiban kita sudah dilaksanakan. Berikutnya adalah Sifat 20 yang dikarang oleh Utsman Badawi. Kemudian kitab ‚amal ma’rifat yang dikarang oleh Abdurrahman Sidiq. Sudahkan kita belajar, mengamalkan dan hidup dengan tauhid.

Bila punya istri dan anak, dan dia termasuk orang ‚alim, maka bisa mengajari mereka (dengan izin dari guru). Bila kita tidak mampu mengajarinya, suruh dia menghadiri majelis ta’lim. Bisa jadi majelis ta’lim itu kitab-nya sudah tinggi.

Awal agama itu mengenal Tuhan. Mengenal Tuhan lewat sifat 20. Tauhid bisa membedakan sifat kita dan sifat Allah. Kehadiran kita di masjid adalah karena taufik dan hidayah dari Allah.

Syarat ma’rifat kepada Allah:

1.       Hati kita yakin, tidak ragu-ragu dengan ilmu yang dipelajari. Gurunya adalah guru yang benar, mengajarkan sesuai Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas.
2.       Ilmu yang dipelajari itu sesuai dengan hukum yang benar, sesuai dengan hukum syara‘, sesuai dengan ilmu fiqih. Seringkali orang lemah dalam ibadah. Tidak benar bila ilmu melemahkan hukum Allah ta’ala. Kalau sampai tidak mewajibkan shalat, maka dia murtad. Ada guru yang khusus masalah hakikat. Waspada belajar ilmu aqidah yang tidak jelas sumbernya. Hukum syariat wajib dilaksanakan sampai akhir hayat, seberapapun tinggi ilmu seseorang.
3.       Ada dalil aqli dan naqli. Ada yang berpendapat bahwa kalau tidak nikah batin, masih berzina meskipun sudah menikah di KUA. Ilmu ini tidak sesuai dengan ilmu Qur’an.


Disampaikan di Masjid Jami’ At-Taqwa 25 Maret 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"