Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Berkunjung ke Majelis Sinode Gereja Kalimantan Evangelis Banjarmasin

Pada hari Selasa, 6 Februari 2018, admin berkunjung ke Majelis Sinode Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Banjarmasin yang terletak di Jalan Sudirman No. 4, Banjarmasin. Admin disambut oleh Bapak Pdt. John Asihua, M.Th, wakil sekretaris umum majelis sinode. Admin menyampaikan maksud admin untuk minta izin menerjemahkan buku Kurze Einfuhrung in die Ngadjoe-Dajaksprache (Pengantar Singkat Bahasa Dayak Ngaju). Beliau menyambut baik permohonan ini dan akan melanjutkan permohonan ini ke Basel Mission yang ada di Swiss.

Dalam perbincangan kami, Pdt. John Asihua menyampaikan bahwa beliau bertemu langsung dengan Ibu Marianne Dubach-Vischer yang mengarang buku Mit Boot und Stethoskop (Dengan klotok dan stetoskop) yang menceritakan pengalaman dokter pertama di Kuala Kapuas yaitu dr. Carl Mattheus Vischer dari tahun 1928-1943.

Sebagai kenang-kenangan dalam kunjungan ke majelis sinode ini, Pdt. John Asihua memberi admin hadiah berupa buku Zwischen Basel und Borneo (Antara Basel dan Borneo) yang ditulis oleh Marianne Dubach-Vischer yang berisi tentang pengalaman Ibu Marianne di Basel dan di Kalimantan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"