Umar bin Abdul Aziz: Dua Tahun Kepemimpinan yang Mengubah Umat

Gambar
  Sepanjang sejarah, kekuasaan sering menjadi ujian berat bagi manusia. Ketika seseorang memiliki kewenangan politik, kekayaan besar, dan berbagai keistimewaan, godaan untuk mengutamakan kepentingan pribadi dapat mengalahkan komitmen terhadap keadilan. Namun, Umar bin Abdul Aziz menunjukkan jalan yang berbeda. Ketika menjadi khalifah pada masa Dinasti Umayyah, ia tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Sebaliknya, ia berusaha memperbaiki pemerintahan, mengembalikan kekayaan negara kepada rakyat, serta menegakkan keadilan. Masa pemerintahannya memang singkat, sekitar dua tahun. Akan tetapi, perubahan yang dilakukannya meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Islam. Ketika Kekayaan Negara Menjadi Keistimewaan Penguasa Pada saat Umar bin Abdul Aziz menerima jabatan khalifah, pemerintahan Dinasti Umayyah telah berkembang menjadi kekuasaan yang diwariskan melalui garis keluarga. Di lingkungan elite pemerintahan, kemewahan dan kekayaan menjadi lambang kedu...

Pendidikan dan Gizi: Peran Penting Makanan di Sekolah untuk Pembelajaran dan Kesetaraan

 


Bagi anak-anak di berbagai negara, termasuk di sekitar kita, makanan bergizi yang mereka santap di sekolah seringkali menjadi penentu; antara masuk kelas atau tinggal di rumah, antara berhasil lulus ujian atau tertinggal pelajaran. Program makan di sekolah telah terbukti menjadi salah satu investasi paling praktis dan efektif yang dapat dilakukan sebuah negara untuk meningkatkan kehadiran siswa, memperkuat hasil belajar, dan memajukan kesetaraan, terutama di tengah situasi krisis.

Artikel ini diadaptasi dari tulisan Anna Horner, Koordinator Senior UN-Nutrition, dan Alexandra Newlands, Kepala Jaringan Masyarakat Sipil SUN (Scaling Up Nutrition). Dalam tulisan mereka, ditekankan bagaimana program makanan di sekolah menjadi contoh nyata bahwa gizi dan pendidikan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Belajar dari Filipina dan Brazil

Gerakan Scaling Up Nutrition (SUN) telah menunjukkan kekuatan kolaborasi untuk mengubah konsep integrasi menjadi aksi nyata. Pada Oktober 2025, perwakilan dari Sri Lanka, Vietnam, Laos, dan Filipina berkumpul untuk sebuah program pertukaran pembelajaran. Acara yang awalnya hanya pertukaran teknis mengenai program makan di sekolah, berkembang menjadi eksplorasi mendalam tentang bagaimana sistem pendidikan dapat berjalan (atau gagal) ketika gizi tidak diintegrasikan sepenuhnya.

Para pejabat pemerintah dan organisasi masyarakat sipil melihat langsung bagaimana menu bergizi di sekolah-sekolah di Filipina terhubung dengan kebun sekolah dan pertanian lokal. Edukasi tentang kebersihan dan gizi dijalin ke dalam rutinitas harian, dan bahkan anak-anak dilibatkan dalam menentukan apa yang mereka makan.

Pengalaman ini memperkuat satu pemahaman bersama: program makan di sekolah tidak bisa berkelanjutan hanya dengan kebijakan di atas kertas. Diperlukan koordinasi antar kementerian, standar yang jelas, pembiayaan yang andal, dan yang terpenting, rasa memiliki dari masyarakat.

Di sisi lain, sebuah perjalanan pembelajaran serupa berlangsung di Brazil. Para pejabat senior dari sepuluh negara melihat bagaimana Brazil berhasil menanamkan gizi di berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan pertanian. Yang menonjol bukanlah satu program unggulan, melainkan pendekatan yang koheren: tujuan nasional yang sama, kepemimpinan politik yang kuat, dan kebijakan yang menghubungkan sekolah langsung dengan petani lokal.

Kunjungan lapangan menunjukkan visi ini dalam praktik. Sekolah-sekolah mendapatkan bahan makanan segar dari sumber lokal, guru dan staf dapur bekerja sebagai satu tim pendidikan, dan anak-anak belajar kebiasaan makan sehat di samping membaca dan matematika. Hal ini membuktikan bahwa makanan di sekolah dapat meningkatkan kehadiran, hasil belajar, sekaligus mendukung ekonomi lokal.

Pelajaran untuk Kita

Pengalaman dari Filipina hingga Brazil ini menunjukkan sebuah pelajaran sederhana namun kuat: makanan di sekolah bukanlah program sampingan. Ini adalah platform yang terbukti dan dapat diskalakan untuk memajukan hasil pendidikan, mempromosikan kesetaraan, dan membangun sistem pangan yang tangguh.

Pada Hari Pendidikan Dunia, kita diingatkan bahwa ketika didukung melalui aksi bersama dari berbagai pihak—pemerintah, masyarakat, donor, dan sektor swasta—program ini memberikan manfaat langsung bagi anak-anak dan keuntungan jangka panjang bagi masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)