Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Keramat Buhai - Sei Basirih

Ungkapan "keramat" ini muncul ketika admin menanyakan kepada Bapak Andre (pemancing ikan yang tinggal di muara Sei Basirih) mengenai lokasi di bawah ini:
Muara Sei Basirih
Beliau langsung menjawab bahwa ada lokasi keramat di darat yang berhubungan dengan lokasi diatas. Beliau bercerita bahwa dilokasi ini ada buayanya, yang muncul pada saat-saat genting sebagai isyarat. Beliau menyarankan kepada admin untuk melihat keramat tersebut. Kalau ingin tahu lebih banyak tentang keramat tersebut bisa menghubungi Bapak beliau yang tinggal di darat juga.

Setelah itu admin pamit, kemudian menuju rumah orang tua Pak Andre. Sayangnya beliau sedang ke ladang. Akhirnya admin diantar oleh Bapak Andre menuju ke lokasi keramat tersebut. Dilokasi tersebut kita disambut oleh pintu gerbang:
Pintu gerbang Keramat Buhai - Sei Basirih
Setelah melewati jembatan, maka kita akan melihat keramat yang dimaksud yaitu tempat memberikan sesaji yang dilengkapi dengan tempat untuk menunggu:
Lokasi Keramat Buhai
Tempat ini dipenuhi dengan kain kuning yang merupakan tanda khas, bahwa ditempat tersebut merupakan tempat untuk memberi sesaji kepada makhluk halus (jin). Bila kita memasuki kawasan keramat tersebut, maka kita akan melihat lebih dekat tempat memberikan sesaji tersebut:
Tempat memberikan sesaji di Keramat Buhai
Tempat ini berupa rumah panggung kecil yang dilengkapi dengan tangga. Menurut keterangan Bapak Andre, pada awalnya tempat sesaji ini tidak memiliki dinding, tetapi setelah direnovasi, dan usulan dari berbagai pihak, akhirnya tempat ini diberikan dinding. Pada sisi kanan dan kiri tempat sesaji ini terdapat ukiran naga. Selain itu juga terdapat hadiah dari orang Bali yang pernah berkunjung ke tempat ini. Orang-orang yang berkunjung ke sini, biasanya mereka memiliki hajat yang ingin dikabulkan. Mereka akan memberikan sesaji agar hajat mereka bisa dikabulkan. Bagi mereka yang sudah lama sakit, disediakan tempat untuk mandi di Sei Basirih. Didepan tempat sesaji ini juga terdapat ruang tunggu sederhana yang dibalut dengan kain kuning:
Ruang tunggu di Keramat Buhai

Berikut ini adalah klip video kunjungan ke Keramat Buhai:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"