Umar bin Abdul Aziz: Dua Tahun Kepemimpinan yang Mengubah Umat

Gambar
  Sepanjang sejarah, kekuasaan sering menjadi ujian berat bagi manusia. Ketika seseorang memiliki kewenangan politik, kekayaan besar, dan berbagai keistimewaan, godaan untuk mengutamakan kepentingan pribadi dapat mengalahkan komitmen terhadap keadilan. Namun, Umar bin Abdul Aziz menunjukkan jalan yang berbeda. Ketika menjadi khalifah pada masa Dinasti Umayyah, ia tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Sebaliknya, ia berusaha memperbaiki pemerintahan, mengembalikan kekayaan negara kepada rakyat, serta menegakkan keadilan. Masa pemerintahannya memang singkat, sekitar dua tahun. Akan tetapi, perubahan yang dilakukannya meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Islam. Ketika Kekayaan Negara Menjadi Keistimewaan Penguasa Pada saat Umar bin Abdul Aziz menerima jabatan khalifah, pemerintahan Dinasti Umayyah telah berkembang menjadi kekuasaan yang diwariskan melalui garis keluarga. Di lingkungan elite pemerintahan, kemewahan dan kekayaan menjadi lambang kedu...

Mempermasalahkan Netralitas Korpri - Opini

Pada hari Jum'at, 29 November 2013 bertempat di halaman kantor Pemerintah Kabupaten Kapuas, Jl. Pemuda Km. 5,5 Kuala Kapuas, Wakil Bupati Kapuas, Ir. H. Muhajirin, MP mengajak para pegawai negeri sipil untuk menjaga netralitas mereka dalam berbagai kegiatan politik. Pernyataan ini disampaikan dalam rangka memperingati ulang tahun Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri).

Pada pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) yang dilaksanakan pada awal tahun 2013 yang lalu, keterlibatan PNS sangat ketara. Banyak pejabat dan staf dilingkungan Pemerintah Kabupaten Kapuas memihak pada salah satu kandidat, baik Surya-Taufik, Mawardi-Herson dan Ben-Jirin. Keberpihakan itu dibuktikan dengan adanya mutasi besar-besaran para pejabat dan staf dilingkungan Pemerintah Kabupaten Kapuas setelah dilantiknya Bupati Kapuas yang baru.

Kondisi yang memprihatinkan adalah banyaknya pejabat yang menempati suatu jabatan, tapi mereka tidak memiliki kompetensi dalam jabatan tersebut. Dengan kata lain, duduknya mereka dalam jabatan tersebut tidak memenuhi persyaratan dari jabatan tersebut. Kondisi seperti ini mengakibatkan kinerja dari seksi, bidang dan dinas terkait tidak bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan oleh Bupati, yaitu harus berlari.

Kontribusi yang diberikan oleh para pendukung kandidat tersebut harus dibayar kembali setelah kandidat menduduki jabatan yang diraih. Kondisi ini mengakibatkan anggaran tidak diserap sepenuhnya untuk pembangunan. Bila kondisi seperti ini terus dipertahankan, maka sulit rasanya untuk bisa melihat Kabupaten Kapuas yang lebih maju pada masa yang akan datang.

Saat ini, jenjang karir tidak lagi dilihat dari masalah prestasi. Kedekatan dengan penguasa menjadi cara yang lebih efektif untuk menduduki suatu jabatan. Hal ini mengakibatkan orang tidak lagi berpikir untuk menunjukkan prestasi dalam sebuah program, tapi mencari cara untuk mendekatkan diri kepada penguasa.

Kita berharap, agar sesudah masa euforia yang dijalani oleh Bupati dan Wakil Bupati sekarang untuk menyenangkan para pendukungnya sudah selesai, maka proses pembangunan bisa dimulai, sesuai dengan yang kita harapkan bersama. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)