Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Rizal Fountain

Rizal Fountain
Berikut ini adalah terjemahan dari tulisan yang terdapat di Rizal Fountain di Rizal Park, Roxas Boulevard, City of Manila, Filipina:

Kran ini, pada mulanya berada di desa Wilhelmsfeld, Heidelburg, Jerman. Dr. Jose Rizal sering minum dari kran ini, selama beliau tinggal di kota Universitas Jerman, selama musim panas tahun 1886. Dr. Joze Rizal bekerja sebagai asisten dokter, dibawah bimbingan Prof. Dr. Otto Becker di rumah sakit di Heidelburg. Di Wilhemsfeld, Rizal merayakan ulang tahunnya yang ke-25 dan juga menulis bagian akhir dari novelnya “Noli Me Tangere”. Inilah mengapa Wilhelmsfeld sekarang dikenal sebagai “Desa Noli”.

Pancuran ini berada di halaman rumah batu tua, dimana Rizal tinggal sebagai tamu dari teman baiknya Pastor Karl Ullmer. Tahun 1964, penghuni rumah bersejarah tersebut, Pastor Gottlob Weber, memulai pergerakan, bersama dengan Minister Pura Santillan Castrence dan Free Press Staff Artist dan Rizalist Gene Carrera, to meminta pancuran tua tersebut disumbangkan ke Filipina.

Tanggal 30 Desember 1964, saat ulang tahun gugurnya Rizal, pancuran secara resmi diserahkan kepada pemerintah Filipina oleh duta besar Jerman Johann Karl Von Stechow didampingi oleh Sekretaris Menteri Luar Negeri Mauro Mendez.

Relik dari Jerman dibangun disini di Luneta, sebagai “Rizal Fountain”, hadiah dari pemerintah federal Jerman kepada rakyat Filipina, sebagai bukti dari persahabatan kedua negara.

Tahun 1994, renovasi besar-besaran dilakukan melalui sumbangan dari Sir Hans Schooe Koor Supreme Enchequer Order dari Ksatria Rizal, dengan Engr. Edmund M. Tolentino, kemudian Direktur Komite Eksekutif dari Pengembangan Taman Nasional juga memberikan bantuan.


Proyek perbaikan adalah bagian dari visi Presiden Filipina Fidel V. Ramos tahun 2000, yaitu lingkungan yang bersih, hijau dan seimbang secara ekologi. Mantan presiden Fidel V. Ramos, melakukan upacara peresmian kembali pada tanggal 30 Desember 1994.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"