Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

UD. Nabil Reihan Rotan

Hiasan sepeda dari rotan
Usaha Daerah ini terletak di Jl. Durian RT 01 Pulau Telo Baru, Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas. Telepon yang dapat dihubungi adalah Ibu Salasiah (082156209700) dan Bapak Slamet (082158924147).
Tempat sampah kering dari rotan
Ibu Salasiah sudah sejak kecil menganyam rotan. Sejak 8 tahun yang lalu beliau melihat bahwa bagian dalam rotan yang sering dibuang sebenarnya bisa dimanfaatkan. Sejak saat itu beliau mulai membuat berbagai macam perkakas dari "hatinya rotan".
Tempat sampah kering dari rotan
Bentuk-bentuk kerajinan rotan yang dihasilkan dari "hatinya rotan" ini ada yang berupa tempat tisu, tempat "aqua gelas", tempat sampah kering dengan berbagai macam bentuk, ada yang berbentuk katak, ada yang berbentuk Doraemon, ada yang berbentuk gajah.
Helm yang dilapis rotan (koleksi pribadi)
Suami istri ini mampu menyelesaikan satu sampai tiga bentuk kerajinan yang sederhana  (tempat sampah kering bentuk katak) dalam waktu satu hari.
Ibu Salasiah dan tudung saji dari rotan
Ibu Salasiah sudah menjadi duta dari Kalimantan Tengah ke berbagai acara tingkat nasional. Beliau pun sudah banyak menerima pesanan kerajinan rotan dari berbagai tempat. Bahkan ada tikar produksi beliau yang diekspor ke Jepang.
Tempat tisu dari rotan
Saat ini beliau mempekerjakan 15 orang karyawan. Beliau juga sering diminta oleh Dinas Sosial dan Tenaga Kerja untuk memberikan pelatihan kepada para pemuda-pemudi tentang ketrampilan menganyam rotan. Saat ini sudah lebih dari 30-an pemuda yang beliau latih menganyam dan sekarang sudah mahir menganyam. Beliau akan melibatkan mereka bila banyak pesanan.
Meja dan kursi yang dilapis rotan
Selain kerajinan yang bentuknya kecil-kecil, mereka juga menerima pesanan pembuatan meja dan kursi dari rotan, baik yang memakai kerangka kayu ataupun tidak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"