Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

"Teleconference" perlu dipertimbangkan dalam kondisi kabut asap ini

Saat mengikuti Pertemuan Rapat Koordinasi Teknis Program Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer Bagi Rumah Sakit Pemerintah Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah di swiss-belhotel danum Palangka Raya pada hari Rabu, 16 September 2015, ada beberapa hal menarik.

Dari dua presentan yang memberikan materi dalam pertemuan tersebut, mereka menceritakan tentang tidak bisanya narasumber dari Jakarta untuk mendarat di Palangka Raya karena kabut asap. Sehingga mereka harus mencari atau menjadi pengganti.

Sebenarnya hal ini tidak boleh menjadi masalah mengingat di Kota Palangka Raya ini sudah ada IndiHome. Dengan tingginya kecepatan internet yang dimilikinya, maka tidak ada masalah lagi untuk melakukan Teleconference.

Kapuas pernah punya pengalaman melakukan Konferensi Internasional Harun Yahya dimana pembicaranya ada di Turki dan audiens-nya ada di Kuala Kapuas. Teleconference dilakukan menggunakan Speedy yang kecepatan unduhnya 3 Mbps, sedangkan kecepatan unggahnya cuma 1 Mbps.

Dengan kecepatan IndiHome yang bisa mencapai 10 Mbps di Palangka Raya, seharusnya teleconference ini dapat dijalankan. Peralatan yang digunakan pun tidak perlu repot-repot, cukup narasumber di Jakarta menggunakan smartphone yang dimilikinya, sedangkan di Palangka Raya cukup menggunakan laptop yang dihubungkan dengan internet dan LCD. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"