Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Konsulen Ginjal dan Hipertensi Puji Hemodialisa Kapuas

dr. Iri Kuswadi, SpPD, KGH sedang ramah tamah dengan pasien
Pada hari Rabu, 21 September 2016, Konsulen Ginjal Hipertensi dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, dr. Iri Kuswadi, SpPD, KGH, melakukan visitasi ke Instalasi Hemodialisa RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas. Dalam kunjungan tersebut beliau mengunjungi setiap pasien di ruang hemodialisa. Setelah itu beliau melakukan ramah tamah dengan pasien hemodialisa dan keluarganya.

Dalam pertemuan tersebut beliau mengungkapkan bahwa pemberian hormon pada pasien hemodialisis di rumah sakit Kapuas sama frekuensinya dengan pemberian hormon di RSUP Sardjito, padahal rumah sakit Kapuas adalah rumah sakit tipe C, sedangkan RSUP Sardjito adalah rumah sakit tipe A.

Salah seorang pasien juga menceritakan kisahkan ketika di cuci darah di Jawa. Di rumah sakit di Jawa tersebut beliau minta agar "dialisis" yang digunakan adalah yang baru. Petugas hemodialisa di rumah sakit tersebut mengatakan bahwa kalau beliau mau yang baru, maka beliau harus bayar Rp 125.000. Beliau lalu membandingkan dengan Kapuas yang bisa memberikan "dialisis" baru secara gratis.

Kebijakan ini dipuji oleh dr. Iri, karena di tempat lain "dialisis" yang digunakan bisa dicuci kembali sampai beberapa kali. Berbagai keunggulan ini membuat pasien-pasien hemodialisis di rumah sakit Kapuas, umumnya memiliki Hb yang cukup tinggi, rata-rata diatas 10 mg/dL. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"