Umar bin Abdul Aziz: Dua Tahun Kepemimpinan yang Mengubah Umat

Gambar
  Sepanjang sejarah, kekuasaan sering menjadi ujian berat bagi manusia. Ketika seseorang memiliki kewenangan politik, kekayaan besar, dan berbagai keistimewaan, godaan untuk mengutamakan kepentingan pribadi dapat mengalahkan komitmen terhadap keadilan. Namun, Umar bin Abdul Aziz menunjukkan jalan yang berbeda. Ketika menjadi khalifah pada masa Dinasti Umayyah, ia tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Sebaliknya, ia berusaha memperbaiki pemerintahan, mengembalikan kekayaan negara kepada rakyat, serta menegakkan keadilan. Masa pemerintahannya memang singkat, sekitar dua tahun. Akan tetapi, perubahan yang dilakukannya meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Islam. Ketika Kekayaan Negara Menjadi Keistimewaan Penguasa Pada saat Umar bin Abdul Aziz menerima jabatan khalifah, pemerintahan Dinasti Umayyah telah berkembang menjadi kekuasaan yang diwariskan melalui garis keluarga. Di lingkungan elite pemerintahan, kemewahan dan kekayaan menjadi lambang kedu...

Konsulen Ginjal dan Hipertensi Puji Hemodialisa Kapuas

dr. Iri Kuswadi, SpPD, KGH sedang ramah tamah dengan pasien
Pada hari Rabu, 21 September 2016, Konsulen Ginjal Hipertensi dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, dr. Iri Kuswadi, SpPD, KGH, melakukan visitasi ke Instalasi Hemodialisa RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas. Dalam kunjungan tersebut beliau mengunjungi setiap pasien di ruang hemodialisa. Setelah itu beliau melakukan ramah tamah dengan pasien hemodialisa dan keluarganya.

Dalam pertemuan tersebut beliau mengungkapkan bahwa pemberian hormon pada pasien hemodialisis di rumah sakit Kapuas sama frekuensinya dengan pemberian hormon di RSUP Sardjito, padahal rumah sakit Kapuas adalah rumah sakit tipe C, sedangkan RSUP Sardjito adalah rumah sakit tipe A.

Salah seorang pasien juga menceritakan kisahkan ketika di cuci darah di Jawa. Di rumah sakit di Jawa tersebut beliau minta agar "dialisis" yang digunakan adalah yang baru. Petugas hemodialisa di rumah sakit tersebut mengatakan bahwa kalau beliau mau yang baru, maka beliau harus bayar Rp 125.000. Beliau lalu membandingkan dengan Kapuas yang bisa memberikan "dialisis" baru secara gratis.

Kebijakan ini dipuji oleh dr. Iri, karena di tempat lain "dialisis" yang digunakan bisa dicuci kembali sampai beberapa kali. Berbagai keunggulan ini membuat pasien-pasien hemodialisis di rumah sakit Kapuas, umumnya memiliki Hb yang cukup tinggi, rata-rata diatas 10 mg/dL. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)