Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Ada yang berbeda dengan tarawih di Langgar Al-Inayah tahun ini

Tadarus setelah shalat tarawih di Langgar Al-Inayah
Sejak admin ikut shalat tarawih di Langgar Al-Inayah tahun 2003 yang lalu, shalat tarawih dan witir di sini sudah berlangsung 23 rakaat. Tadi malam (26 Mei 2017), kaum langgar, Pak Ramli, memberi penjelasan bahwa mulai malam ini shalat tarawih dan witir jumlahnya 11 rakaat.

Dari aspek waktu, tidak banyak berubah karena saat 23 rakaat dulu selesainya rata-rata pukul 19.40 WIB. Nah setelah 11 rakaat, selesainya 19.33 WIB. Bedanya, sekarang shalatnya tidak lagi dikerjakan dengan terburu-buru. Bacaan imam pun lebih pelan dari sebelumnya. Berikut rekamannya:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"