Ketika Seorang Perempuan Yahudi Berdiri Membela Palestina

Di tengah perdebatan yang semakin panas mengenai Palestina, ada satu kesaksian yang menarik perhatian dunia. Bukan karena disampaikan dengan suara lantang atau penuh kemarahan, melainkan karena ketenangan, kejernihan berpikir, dan keberanian moral yang ditunjukkan oleh seorang perempuan muda Yahudi bernama Yasmine Johnson.

Saya menyaksikan kesaksiannya dalam sidang Royal Commission into Anti-Semitism and Social Cohesion di Australia. Selama hampir satu jam, ia menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tajam mengenai pandangannya tentang Palestina, Zionisme, kebebasan berpendapat, hingga tuduhan antisemitisme. Namun yang membuat saya benar-benar kagum bukanlah semata-mata isi argumennya, melainkan cara ia menyampaikannya.

Tidak terlihat emosi yang meledak-ledak. Tidak ada nada marah. Tidak pula usaha menyerang lawan bicara secara pribadi. Sebaliknya, ia menjawab hampir setiap pertanyaan dengan tenang, sistematis, dan konsisten.

Seorang Yahudi yang Memisahkan Agama dan Negara

Yasmine Johnson bukanlah orang yang asing dengan sejarah penderitaan bangsa Yahudi. Dalam kesaksiannya, ia menceritakan bahwa keluarganya kehilangan banyak anggota keluarga dalam Holocaust. Bahkan neneknya kehilangan hampir seluruh kerabatnya akibat tragedi tersebut. Baginya, pengalaman sejarah itu justru menjadi alasan moral untuk menolak segala bentuk penindasan terhadap siapa pun.

Ia mengatakan bahwa makna "Never Again" (Tidak Pernah Terulang Lagi) seharusnya berlaku untuk semua manusia, bukan hanya untuk satu kelompok tertentu. Atas dasar itulah ia merasa berkewajiban memperjuangkan keadilan bagi rakyat Palestina.

Pernyataan itu menurut saya sangat menarik. Ia tidak menggunakan identitas Yahudinya sebagai tameng, tetapi justru menjadikannya sebagai panggilan moral untuk menentang apa yang menurut keyakinannya merupakan ketidakadilan.

Menguasai Isu Palestina dengan Sangat Baik

Hal lain yang membuat saya terkesan adalah penguasaan Yasmine terhadap persoalan Palestina.

Ketika ditanya mengapa gerakan mahasiswa mendirikan perkemahan solidaritas Palestina di berbagai kampus Australia, ia menjelaskan kronologi, tujuan, dan alasan moral di balik aksi tersebut secara runtut. Ia bahkan mengisahkan bagaimana kabar mengenai seorang anak perempuan Palestina bernama Hind Rajab yang meminta pertolongan sebelum akhirnya ditemukan meninggal menjadi salah satu peristiwa yang mendorong mereka untuk meningkatkan aksi solidaritas.

Ia juga menjelaskan bahwa menurut pandangannya, aksi protes bukan sekadar menyampaikan pendapat, tetapi bertujuan menarik perhatian masyarakat terhadap isu yang dianggap diabaikan.

Terlepas dari apakah seseorang setuju atau tidak dengan pandangannya, tidak dapat dipungkiri bahwa ia memahami sejarah, konteks, serta argumentasi yang ia bangun.

Tetap Tenang Saat Diuji dengan Pertanyaan Sulit

Bagian yang paling mengesankan bagi saya adalah ketika Yasmine harus menghadapi berbagai pertanyaan yang sensitif.

Ia diminta menjelaskan slogan "From the river to the sea, Palestine will be free", slogan "Globalize the Intifada", hubungan kritik terhadap Israel dengan antisemitisme, hingga pandangannya mengenai Zionisme.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan berulang kali dari berbagai sudut.

Namun sepanjang proses itu, ekspresi Yasmine hampir tidak berubah. Ia tidak kehilangan kendali. Ia tidak memotong pembicaraan. Ia mendengarkan terlebih dahulu, kemudian memberikan jawaban sesuai dengan keyakinannya.

Dalam beberapa kesempatan ia bahkan secara tegas menyatakan bahwa gerakan Students for Palestine menolak segala bentuk rasisme, termasuk antisemitisme dan Islamofobia. Menurutnya, kritik terhadap kebijakan negara Israel tidak otomatis merupakan kebencian terhadap orang Yahudi.

Ia juga menegaskan bahwa orang Yahudi tidak boleh diperlakukan seolah-olah semuanya bertanggung jawab atas tindakan pemerintah Israel.

Sikap seperti ini menunjukkan adanya upaya membedakan antara identitas keagamaan, identitas etnis, dan kebijakan sebuah negara.

Berani Memegang Prinsip

Sidang tersebut tentu bukan ruang yang mudah.

Sebagian pertanyaan mencoba menunjukkan bahwa pandangan Yasmine dapat membuat sebagian warga Yahudi merasa tidak aman atau tersinggung. Ia diberi kesempatan berkali-kali untuk mengubah atau melunakkan pendapatnya.

Namun ia tetap mempertahankan apa yang diyakininya dengan bahasa yang relatif tenang dan argumentatif.

Di akhir persidangan pun ia kembali menegaskan bahwa menurut pandangannya, kampus seharusnya menjadi ruang kebebasan akademik untuk memperdebatkan berbagai gagasan, termasuk kritik terhadap negara maupun pemerintah.

Pelajaran dari Sikapnya

Artikel ini bukanlah ajakan untuk menerima seluruh pandangan politik Yasmine Johnson tanpa kritik. Isu Palestina-Israel sangat kompleks dan melibatkan berbagai perspektif sejarah, politik, hukum, serta kemanusiaan.

Namun ada satu hal yang menurut saya layak diapresiasi.

Yasmine menunjukkan bahwa seseorang dapat menyampaikan keyakinannya dengan keberanian sekaligus ketenangan. Ia tidak mudah terpancing emosi meskipun menghadapi pertanyaan yang sangat menekan. Ia berusaha menjawab berdasarkan argumen yang diyakininya, bukan dengan kemarahan.

Di zaman ketika perdebatan publik sering berubah menjadi saling mencaci, sikap seperti ini terasa semakin langka.

Barangkali justru di situlah letak kekuatan seorang Yasmine Johnson: bukan hanya karena ia seorang Yahudi yang membela hak-hak rakyat Palestina, tetapi karena ia mampu mempertahankan keyakinannya dengan kepala dingin, keberanian moral, dan kemampuan menjelaskan pikirannya secara jernih.

Sebagai penonton, saya tidak hanya melihat seorang aktivis. Saya melihat seorang perempuan muda yang tampil tenang di tengah tekanan besar, dan itu adalah sesuatu yang patut dihargai.

Sumber:

  • Video "Jewish socialist Yasmine Johnson at the Royal Commission into Anti-Semitism and Social Cohesion" yang diunggah oleh Socialist Alternative (Australia) pada 15 Juli 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)