Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Pemberdayaan Lulusan STAI Kuala Kapuas

Drs. Nurul Edy, M.Si menyampaikan sambutan dalam pembukaan Musykom KAMMI
Dalam sambutan pembukaan Musyawarah Komisariat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kuala Kapuas, Sabtu, 14 April 2012 di aula Hotel Roos, Jl. Tambun Bungai, Kuala Kapuas, Sekretaris Daerah Kabupaten Kapuas, Drs. Nurul Edy, M.Si menyampaikan bahwa beliau pernah melakukan pembicaraan dengan Kepala Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kuala Kapuas tentang pemberdayaan lulusannya. Dalam pembicaraan tersebut beliau mengusulkan agar lulusan STAI dinikahkan kemudian ditugaskan untuk mengabdi di seluruh desa di Kabupaten Kapuas.

Saat berada di desa, para lulusan STAI dapat bertindak sebagai imam masjid atau langgar, memberikan pelajaran kepada masyarakat tentang tatacara shalat, membaca Qur'an, mengajarkan bagaimana menyelenggarakan jenazah dan menjadi khatib Jum'at. Banyak desa yang tidak menyelenggarakan kegiatan Shalat Jum'at karena tidak ada warga masyarakatnya yang berani untuk menjadi khatib Jum'at.

Selain itu Bapak Nurul Edy juga menyinggung tentang masalah pendidikan di Kabupaten Kapuas yaitu distribusi guru yang belum merata dan kurangnya guru-guru eksakta seperti biologi, kimia, fisika dan matematika.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"