Umar bin Abdul Aziz: Dua Tahun Kepemimpinan yang Mengubah Umat

Gambar
  Sepanjang sejarah, kekuasaan sering menjadi ujian berat bagi manusia. Ketika seseorang memiliki kewenangan politik, kekayaan besar, dan berbagai keistimewaan, godaan untuk mengutamakan kepentingan pribadi dapat mengalahkan komitmen terhadap keadilan. Namun, Umar bin Abdul Aziz menunjukkan jalan yang berbeda. Ketika menjadi khalifah pada masa Dinasti Umayyah, ia tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Sebaliknya, ia berusaha memperbaiki pemerintahan, mengembalikan kekayaan negara kepada rakyat, serta menegakkan keadilan. Masa pemerintahannya memang singkat, sekitar dua tahun. Akan tetapi, perubahan yang dilakukannya meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Islam. Ketika Kekayaan Negara Menjadi Keistimewaan Penguasa Pada saat Umar bin Abdul Aziz menerima jabatan khalifah, pemerintahan Dinasti Umayyah telah berkembang menjadi kekuasaan yang diwariskan melalui garis keluarga. Di lingkungan elite pemerintahan, kemewahan dan kekayaan menjadi lambang kedu...

Kemuliaan Masjid


Oleh: H. Parhani

Kegiatan safari subuh dan safari Jum’at bertujuan untuk mengajak masyarakat memakmurkan masjid. Dulu Islam pernah jaya di muka bumi ini. Masjid dan tempat-tempat ibadah menjadi markas untuk mempersatukan dan mensejahterakan umat. Ini berlangsung sampai abad ke-13. Abad ke-14 peranan masjid mulai menciut. Sehingga timbul pemahaman bahwa masjid hanya menjadi tempat pelaksanaan shalat jama’ah saja.

Dengan semangat ini dibentuklah Dewan Masjid Indonesia yang ingin menjadikan masjid sebagaimana diinginkan oleh Rasulullah SAW. Masjid merupakan tempat yang paling mulia di muka bumi. Ketika Rasulullah mulai hijrah ke Madinah, pemikiran beliau pertama adalah membangun masjid, sebagai tempat pemersatu, tempat berda’wah, dll. Dibangunlah masjid nabawi. Saking pentingnya masjid, beberapa hari singgah di Quba, dibangunlah masjid Quba.

Bukti kemuliaan masjid. Masuk ke masjid, disunnahkan untuk memuliakannya dengan shalat tahiyatul masjid. “janganlah engkau duduk di masjid sebelum melaksanakan shalat dua rakaat” (Hadits). Orang yang berhadats besar dilarang memasuki masjid. Orang yang ikut membangun masjid akan dibangunkan istana di surga.

Saat ini masjid, mushala, langgar menjamur di muka bumi. Di Kabupaten Kapuas sudah ada lebih dari 100 masjid. Sudah seberapakah kita memakmurkan masjid. Setelah membangun, kita harus memikirkan masjid supaya makmur. Kita temui di handil, Masjid hanya digunakan seminggu sekali. Kasihan mereka yang menyumbang untuk pembangunan masjid ini.

Berdiam di masjid dengan niat i’tikaf, mendapat nilai ibadah (pahala). Orang yang berusaha memakmurkan masjid dengan berbagai macam kegiatan adalah kegiatan yang mulia. Salah satu orang yang mendapatkan naungan di Padang Mahsyar adalah orang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid. Mari kita berusaha untuk membangkitkan umat untuk memakmurkan masjid.

Kita hidupkan shalat berjama’ah, bukan hanya Maghrib dan Isya. Karena shalat berjama’ah, sebagian ulama mengatakan wajib. Imam Ahmad Hanbal mengatakan bahwa shalat berjama’ah itu Fardhu ‘Ain. Ada lagi ulama yang mengatakan bahwa shalat berjama’ah adalah syarat sah shalat. Dalam mazhab Syafi’i, shalat berjama’ah adalah sunnah muakkadah.

Barangsiapa berjalan menuju masjid untuk shalat berjama’ah, seperti naik haji. Barangsiapa berangkat ke masjid untuk shalat sunnat, seperti pahala umroh. Sahabat merasa rugi kalau ketinggalan shalat berjama’ah. Abdullah bin Umar,, ketinggalan takbiratul ihram, saking kesalnya, setelah selesai shalat, beliau mengulang shalat 27 kali. Karena fadhilah shalat berjama’ah adalah 27 kali dibandingkan dengan shalat sendirian. Malamnya beliau bermimpi ditinggal oleh kabilah, ketika beliau menyusul tapi tidak bisa. Dia bertemu dengan seseorang yang juga ketinggalan, dikatakan kepadanya, dia tidak dapat menyusul karena dia masbuk.
Dari shalat jama’ah kita akan mendapati banyak kebaikan. Dalam lingkungan yang kecil, umat Islam membangun mushola. Dalam lingkungan yang lebih besar, mereka bangun masjid. Dengan tempat ibadah ini terbangun silaturahmi. Saat adzan, mereka berangkat ke masjid. Di masjid mereka bertemu dengan tetangga, kawan-kawan, terjalin silaturahim. Terjalin ukhuwah Islamiyah yang baik. Andaikata kita datang ke mushola, langgar, masjid setiap adzan, kita sering bertemu dengan kawan.

Di kota, manusia super sibuk. Ketika kita sibuk dengan kesibukan sendiri. Hanya sebulan sekali bertemu kawan. Bila kita shalat berjama’ah di masjid, kita bisa sering bertemu dengan sahabat kita. Disitu akan muncul sebuah kebersamaan. Rasulullah mengajarkan dari tempat ibadah akan lahir persaudaraan. Shalat berjama’ah kamu, Allah akan menyatukan hati-hati kalian.

Shalat berjama’ah perlu dihidupakan. Pekerjaan ringan yang pahalanya berlipat ganda: shalat jama’ah. Dengan jama’ah, apa yang dibaca oleh imam, itu pula yang didapat oleh ma’mum. Pahala mu’adzin lebih besar dari imam, karena dia mengajak orang untuk shalat berjama’ah.

Saat Islam jaya, shalat berjama’ah mereka pelihara. Saat shalat jama’ah tidak dihiraukan, disitulah mulai dilihat kemunduran Islam. Orang lain memandang bila shalat Subuh seperti shalat Jum’at, mereka kagum.
Selain menghidupkan shalat berjama’ah, hidupkan masjid dengan pelajaran-pelajaran, mudzakarah. Sehingga masjid punya bermacam-macam fungsi, tempat shalat, tempat belajar, tempat musyawarah. Ketika masjid ma’mur, maka akan menimbulkan ketenangan. Bagi yang galau, masjid bisa menjadi tempat mendapat ketenangan. Bagaimana kita membuat masjid bisa memiliki fungsi demikian.


Saat Ramadhan, masjid harus diperbaiki. Malam-malam Ramadhan adalah waktu-waktu mulia. Di masjid ada yang bagarakan sahur, sehingga ketika orang yang ingin melaksanakan ibadah menjelang subuh ada yang terganggu.

* Kuliah subuh ini disampaikan di Masjid Nurul Iman, Kuala Kapuas pada hari Sabtu, 5 April 2014


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)