Umar bin Abdul Aziz: Dua Tahun Kepemimpinan yang Mengubah Umat

Gambar
  Sepanjang sejarah, kekuasaan sering menjadi ujian berat bagi manusia. Ketika seseorang memiliki kewenangan politik, kekayaan besar, dan berbagai keistimewaan, godaan untuk mengutamakan kepentingan pribadi dapat mengalahkan komitmen terhadap keadilan. Namun, Umar bin Abdul Aziz menunjukkan jalan yang berbeda. Ketika menjadi khalifah pada masa Dinasti Umayyah, ia tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Sebaliknya, ia berusaha memperbaiki pemerintahan, mengembalikan kekayaan negara kepada rakyat, serta menegakkan keadilan. Masa pemerintahannya memang singkat, sekitar dua tahun. Akan tetapi, perubahan yang dilakukannya meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Islam. Ketika Kekayaan Negara Menjadi Keistimewaan Penguasa Pada saat Umar bin Abdul Aziz menerima jabatan khalifah, pemerintahan Dinasti Umayyah telah berkembang menjadi kekuasaan yang diwariskan melalui garis keluarga. Di lingkungan elite pemerintahan, kemewahan dan kekayaan menjadi lambang kedu...

Santri Ponpes Al-Amin Membuat Telur Asin

Menakar jumlah tanah liat
Garam dimasukkan ke tanah liat
Pada hari Minggu, 22 Februari 2015, santri pondok pesantren Al-Amin Kapuas membuat telur asin. Prosesnya dimulai dengan menakar tanah liat yang akan ditambahi dengan garam. Satu gayung tanah liat yang berasal dari batu bata yang dihancurkan dicampur dengan satu bungkus garam (250 gram).
Mencampur tanah liat dengan garam

Mencuci telur itik
Tanah liat dan garam dicampur secara merata, sehingga menyatu antara tanah liat dan garam. Pada saat yang sama ada santri yang bertugas untuk mencuci telur itik sampai bersih. Telur yang sudah bersih tersebut dibungkus dengan tanah liat yang sudah dicampur dengan garam.
Membungkus telur dengan tanah liat plus garam

Telur yang sudah dibungkus
Telur yang sudah dibungkus dengan tanah liat yang mengandung garam tersebut akan disimpan selama satu minggu sebelum dibersihkan lagi. Bila telurnya tidak ada masalah saat dibungkus dengan tanah liat plus garam, telur asin ini bisa tahan selama satu bulan. Saat ini pondok pesantren hanya memproduksi telur asin sebanyak lima rak seminggu. Hal ini dikarenakan terbatasnya waktu para santri untuk membuat telur asin ini. Selain itu juga masalah pemasaran. Saat ini dua rak dijual ke Kuala Kapuas, sisanya dijual kepada para pedagang di Pasar Palingkau. Penjualan telur asin di Kuala Kapuas terbanyak justru di rumah sakit, karena ada salah satu pedagang yang membawa telur tersebut untuk dijual di rumah sakit. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)