Sinergi Besar Muhammadiyah Kapuas: AMM, LazisMu, dan MDMC Tebar Paket Takjil
Belakangan ini, diet rendah karbohidrat (low-carb) dan rendah lemak (low-fat) sering dijadikan “jalan cepat” untuk menurunkan berat badan dan memperbaiki kesehatan metabolik. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah dua pola diet ini benar-benar menyehatkan jantung?
Sebuah studi baru dari peneliti Harvard T.H. Chan School of Public Health memberi jawaban yang cukup jelas: bukan semata-mata berapa banyak karbohidrat atau lemak yang kita kurangi, tetapi kualitas makanan yang kita pilih.
Studi ini menemukan bahwa diet low-carb dan low-fat dapat menurunkan risiko penyakit jantung bila pola makannya:
kaya makanan nabati berkualitas tinggi (buah, sayur, kacang-kacangan, biji-bijian utuh/whole grains, dan polong-polongan),
rendah produk hewani, serta
rendah karbohidrat olahan (misalnya roti tawar putih, kue manis, minuman berpemanis, dan makanan tepung yang sangat diproses).
Sebaliknya, low-carb atau low-fat yang disusun dari:
karbohidrat olahan, dan/atau
tinggi lemak dan protein hewani (terutama dari sumber yang kurang sehat),
justru berhubungan dengan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi.
Dengan kata lain, seseorang bisa saja “low-carb”, tetapi kalau penggantinya adalah makanan tinggi lemak hewani dan minim serat, hasilnya bisa berbalik merugikan.
Peneliti menganalisis data kesehatan dan pola makan dari hampir 200.000 pria dan wanita dalam tiga studi besar di Amerika Serikat (Health Professionals Follow-Up Study, Nurses’ Health Study, dan Nurses’ Health Study II).
Pola makan para peserta kemudian diberi skor untuk membedakan:
low-carb sehat vs low-carb tidak sehat, dan
low-fat sehat vs low-fat tidak sehat.
Peneliti juga menilai kejadian penyakit jantung koroner serta mengontrol faktor lain seperti gaya hidup dan kondisi kesehatan. Selain itu, sebagian peserta dianalisis sampel darahnya untuk melihat penanda risiko penyakit kardiovaskular.
Low-carb sehat dan low-fat sehat berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner sekitar 15%.
Versi tidak sehat dari kedua diet tersebut malah berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi.
Pada pemeriksaan darah, pola makan sehat berkaitan dengan biomarker yang lebih baik, seperti:
HDL (kolesterol “baik”) lebih tinggi
trigliserida lebih rendah
Penelitian ini “membongkar mitos” bahwa cukup dengan mengurangi karbohidrat atau lemak maka otomatis kita lebih sehat.
Yang paling menentukan justru:
Makanan apa yang menggantikan karbohidrat/lemak yang dikurangi itu.
Kalau kita mengurangi nasi atau gorengan, tetapi menggantinya dengan makanan ultra-proses, daging olahan, atau camilan tinggi gula—maka manfaatnya bisa hilang.
Agar lebih mudah, ini gambaran pilihan yang cenderung lebih baik untuk jantung:
Lebih dianjurkan
Sayur dan buah beragam warna setiap hari
Biji-bijian utuh: beras merah, oat, jagung, roti gandum utuh
Protein nabati: tempe, tahu, kacang merah, kacang hijau, lentil
Lemak sehat: alpukat, kacang, biji-bijian, minyak zaitun (jika ada), minyak kanola
Ikan (secukupnya) sebagai opsi protein yang lebih ramah jantung
Sebaiknya dibatasi
Karbohidrat olahan: minuman manis, roti/kue manis, mie instan terlalu sering
Lemak jenuh berlebih dan daging olahan: sosis, nugget, kornet, daging asap
Makanan ultra-proses yang tinggi garam, gula, dan lemak
Kalau ingin mencoba low-carb atau low-fat, fokuskan pada “paket sehatnya”:
Perbanyak serat (sayur, buah, kacang-kacangan)
Pilih karbohidrat yang utuh, bukan yang terlalu diproses
Pilih protein lebih sering dari nabati (tempe/tahu itu aset besar di Indonesia)
Batasi gula dan minuman manis
Jangan terjebak angka (misalnya takut karbohidrat atau takut lemak), tetapi lihat keseluruhan pola makan
Kesimpulannya sederhana: diet bukan soal perang karbohidrat vs lemak, melainkan soal kualitas makanan sehari-hari. Pola makan yang dominan nabati dan minim makanan olahan cenderung lebih bersahabat untuk jantung—apapun label diet yang kita gunakan.
Sumber: Low-carb and low-fat diets associated with lower heart disease risk if rich in high-quality, plant-based foods, low in animal products | Harvard T.H. Chan School of Public Health
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!