Postingan

Menampilkan postingan dengan label psikologi

Islam dan Perbudakan: Memahami Sejarah, Jalan Pembebasan, dan Martabat Manusia

Gambar
  Perbudakan merupakan salah satu bagian paling kelam dalam sejarah umat manusia. Ketika mendengar istilah tersebut, banyak orang langsung membayangkan perdagangan manusia, kerja paksa, kekerasan, pemisahan keluarga, serta perlakuan kejam berdasarkan warna kulit. Gambaran itu bukan tanpa alasan. Dalam sejarah modern, perdagangan budak lintas Atlantik telah meninggalkan luka yang sangat dalam. Jutaan orang Afrika dirampas kebebasannya, dipindahkan secara paksa, dan diperlakukan sebagai barang milik. Namun, perbudakan sebenarnya telah dikenal jauh sebelum masa itu dan pernah dipraktikkan oleh hampir semua peradaban besar. Dalam ceramah berjudul The Islamic Response to Slavery , Syekh Mohammad Elshinawy dari Yaqeen Institute mengajak masyarakat memahami persoalan tersebut berdasarkan konteks sejarah. Menurutnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya apakah perbudakan pernah ada di tengah masyarakat Muslim, tetapi juga bagaimana ajaran Islam mengatur, membatasi, dan membuka jalan ...

Dicintai Saja Tidak Cukup, Kita Juga Perlu Merasa Dikenal

Gambar
  Banyak orang ingin dicintai. Namun, ada pertanyaan yang sering luput kita renungkan: bagaimana mungkin kita merasa benar-benar dicintai, kalau kita tidak merasa benar-benar dikenal? Pertanyaan ini menjadi inti tulisan Sonja Lyubomirsky dan Harry Reis dalam artikel How Can We Feel Loved If We Don’t Feel Known? yang dimuat di Behavioral Scientist. Keduanya adalah peneliti yang mendalami kebahagiaan dan hubungan antarmanusia. Mereka menjelaskan bahwa salah satu faktor besar yang membuat seseorang bahagia bukan sekadar memiliki banyak hal, tampak sukses, atau dikagumi banyak orang, melainkan merasa dicintai secara tulus . Namun, merasa dicintai ternyata tidak selalu mudah. Banyak orang sebenarnya memiliki keluarga, pasangan, sahabat, atau lingkungan yang peduli, tetapi tetap merasa kesepian, tidak dipahami, atau kurang dihargai. Menurut Lyubomirsky dan Reis, masalahnya sering kali bukan karena tidak ada cinta, melainkan karena cara kita memahami cinta kadang keliru. Dicintai Buk...

Ingin Memengaruhi Seseorang? Bukan Menggurui Jawabannya, Tapi Mendengarkan

Gambar
  Dalam hidup, kita seringkali ingin orang lain memahami dan menerima sudut pandang kita. Entah itu dengan pasangan, teman, atau rekan kerja. Ketika dihadapkan pada perbedaan pendapat mengenai sesuatu yang kita anggap penting, insting pertama kita biasanya adalah berusaha sekuat tenaga mempertahankan posisi kita. Kita merasa perlu untuk menjelaskan argumen kita sejelas mungkin. Namun, pernahkah Anda sadar bahwa semakin kuat Anda memegang pendapat, semakin sempit pula ruang percakapan yang ada? Diskusi yang seharusnya menjadi ajang eksplorasi ide berubah menjadi ajang saling melindungi ego. Begitu seseorang merasa diserang dan masuk ke mode bertahan, akan sangat sulit untuk mencapai kemajuan apa pun. Kekuatan dari Merasa Didengarkan Ternyata, ada cara lain yang lebih efektif. Cara tercepat untuk memengaruhi seseorang bukanlah dengan menggurui, melainkan dengan mendengarkan. Sebuah studi pada tahun 2017 oleh para peneliti Guy Itzchakov, Avraham Kluger, dan Dotan Castro membuktikan ha...

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)