Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban
Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...
"..Ke daerah pedalaman Kalteng mana saja Mr,Muji menjajakkan kaki????
BalasHapusTentang Kisah di bawah ini sama sekali tidak benar..Kami dari pihak pribadi Sanggar tari Riak Nyalong tidak pernah sama sekali mengalami kejadian seperti terkisah di bawah...Lagi pula Mr.Muji bukanlah Koreografer tari,terutama di dalam kepengurusan Sanggar Tari Riak Nyalong!!
Mr.Muji hanyalah pemain gendang pengganti dalam pemusik.Coba telaah kembali & cek secara benar,dalam mewawancarai seseorang..Terima kasih.." by.DeVa
Kisah menarik lain adalah ketika tampil dalam acara Natal, waktu itu beliau menggunakan alat musik gambus. Setelah tampil, beliau diprotes oleh pengundang, mengapa menampilkan alat musik yang bernuansa Islam. Waktu itu beliau kalah argumentasi. Setelah mempelajari literatur Kristen, beliau menemukan bahwa orang-orang Kristen dalam pestanya juga menggunakan gambus, rebana, rebab sebagai alat musik.
Terima kasih atas informasi dan koreksinya, kalau boleh, bisa nggak kami ngobrol sama Putra Tentara Lawung (DeVa)
BalasHapus