Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Bupati Kapuas: Wujudkan Islam sebagai Rahmatan Lil 'Alamin (rahmat bagi seluruh alam)

Bupati Kapuas saat memberikan sambutan pada penutupan Musywil ke-7 Muhammadiyah dan Aisyiyah Kalimantan Tengah
Ungkapan ini disampaikan oleh Bupati Kapuas, Ir. H. Muhammad Mawardi, MM ketika memberikan sambutan pada Penutupan Musyawarah Wilayah ke-7 Muhammadiyah dan Aisyiyah pada hari Minggu, 17 Oktober 2010 bertempat di Gedung Kesenian Gandang Garantung, Kuala Kapuas. Hal ini beliau sampaikan sehubungan dengan pengalaman beliau ketika berkunjung ke Australia. Ketika melewati bagian imigrasi, beliau tidak menerima senyuman dari petugas imigrasi Australia, padahal rekan seperjalanan beliau seperti Bapak Herson Aden (Ketua Bappeda Kabupaten Kapuas) dan Bapak Nurul Edy (Sekretaris Daerah Kabupaten Kapuas) mendapatkan sambutan yang ramah dari mereka. Apakah karena nama beliau ada Muhammad-nya?

Citra masyarakat Islam di mata dunia perlu ditingkatkan. Islam sejak dulu mengajarkan kebersihan, tapi mereka (orang-orang Barat, admin) lebih bersih dari kita. Toilet mereka yang terletak di tengah hutan saja sangat bersih, tersedia tissue yang sangat baik, yang mungkin kalau di Indonesia disiapkan tissue demikian, tentu akan hilang. Beliau juga mengungkapkan bagaimana disiplinnya mereka, serta adanya budaya antri yang baik.

Beliau mengisahkan tentang Ibu Bupati dan Ibu Sekda yang menyetop taksi bukan pada tempatnya. Meskipun mereka sudah memberi isyarat dengan tangan untuk menghentikan taksi, tapi tidak ada satu taksi pun yang mau berhenti. Akhirnya mereka diberitahu bahwa ada tempat tertentu untuk antri taksi.

Beliau juga mengungkapkan bagaimana kurang disiplinnya kaum Muslimin yang kadang-kadang membuat orang non-Muslim kurang menghormati kaum Muslimin. Mari kita tunjukkan bahwa orang Islam juga bisa bersih, bisa disiplin dan juga bisa antri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"