Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

21 Mei - World Day for Cultural Diversity for Dialogue and Development

Dalam rangka mengadopsi Deklarasi Universal UNESCO tentang Keanekaragaman Budaya pada bulan November 2011, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mendeklarasikan 21 Mei sebagai Dialog dan Pengembangan Keanekaragaman Budaya Sedunia ( Resolution 57/249). Hari ini memberikan kesempatan kepada kita untuk memperdalam pengertian tentang nilai-nilai Keanekaragaman Budaya dan belajar untuk "hidup bersama" dengan lebih baik. Inilah sebabnya mengapa UNESCO menghimbau kepada seluruh negara anggota, sebagaimana juga kepada masyarakat sipil untuk merayakan hari sedunia ini dengan melibatkan sebanyak mungkin aktor dan rekan. 

Sumber: UNESCO

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas