Umar bin Abdul Aziz: Dua Tahun Kepemimpinan yang Mengubah Umat

Gambar
  Sepanjang sejarah, kekuasaan sering menjadi ujian berat bagi manusia. Ketika seseorang memiliki kewenangan politik, kekayaan besar, dan berbagai keistimewaan, godaan untuk mengutamakan kepentingan pribadi dapat mengalahkan komitmen terhadap keadilan. Namun, Umar bin Abdul Aziz menunjukkan jalan yang berbeda. Ketika menjadi khalifah pada masa Dinasti Umayyah, ia tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Sebaliknya, ia berusaha memperbaiki pemerintahan, mengembalikan kekayaan negara kepada rakyat, serta menegakkan keadilan. Masa pemerintahannya memang singkat, sekitar dua tahun. Akan tetapi, perubahan yang dilakukannya meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Islam. Ketika Kekayaan Negara Menjadi Keistimewaan Penguasa Pada saat Umar bin Abdul Aziz menerima jabatan khalifah, pemerintahan Dinasti Umayyah telah berkembang menjadi kekuasaan yang diwariskan melalui garis keluarga. Di lingkungan elite pemerintahan, kemewahan dan kekayaan menjadi lambang kedu...

Mudorotnya kebodohan terhadap kefarduan dan hukum-hukum agama


Oleh : Guru Abdul Hamid, S.Ag

Oleh karena itu seseorang itu sepantasnya mengetahui kebodohannya itu. Kalau dia tidak mengetahui, maka dia akan jatuh pada apa yang dimurkai Allah SWT. Allah akan murka kepadanya, baik dia kehendaki atau tidak. Sesungguhnya orang yang jahil itu dia sudah menyiapkan diri dengan kebodohannya untuk dimarahi oleh Allah SWT. Dia akan jatuh ke dalam kebinasaan karena ketidaktahuannya.

Bagaimana sampai tidak terjadi yang demikian itu. Karena kebodohannya itu dia punya keyakinan, sebagian yang wajib itu dianggapnya haram. Atau sebaliknya, bukan haram, tapi tidak wajib katanya. Ataupun ada sebagiannya yang diharamkan oleh Allah SWT, dia berpendapat itu wajib, padahal itu dilarang oleh Allah, atau ini adalah taat.

Wajib dianggap haram – atau tidak wajib: contoh dalam hukum shalat, dikatakan tidak wajib.

Ini adalah puncak bahaya dan akhir kemudhorotan bagi orang-orang yang jahil. Barangkali mereka jatuh dengan sebab kebodohan jatuh ke perkara-perkara yang menyerupai orang kafir atau kafir sama sekali.

Allah SWT wajibkan kepada mereka belajar ilmu (menuntut ilmu). Jalan untuk menuntut ilmu itu dimudahkan oleh Allah SWT. Allah mewajibkan kepada ulama untuk mengajari mereka. Kenapa sampai mereka itu lalai? Mereka terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan mengikuti nafsu mereka, mereka tampah jauh dengan Allah. Ini semua adalah pada ilmu yang wajib, yang tidak pantas. Mereka tertipu dengan dunia. Mereka mencari dunia siang dan malam. Dan terus berusaha.

Dia tidak punya keinginan untuk memiliki pengetahuan tentang ilmu yang wajib. Kalau sudah urusan dunia dia semangat. Untuk urusan ilmu dia sulit. Mengapa demikian? Karena hatinya mati. Dan dia meringankan urusan agamanya. Dia tidak ada keinginan membawa bekal untuk akhirat. Keperluan yang zahir yang hadir dihadapannya. Keperluannya terhadap ilmu jauh. Karena tidak tampak. Dia tidak tahu manfaatnya, kecuali sesudah mati. Dia lupa mati atau sesudah mati. Karena banyak kebodohannya, tidak ada paham dan ilmu baginya.

“Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”

“Mereka terhadap hal yang demikian, lalai”

Imam Hasan Al-Bashri – ada seseorang yang dia menghargai sesuatu perhiasan diatas jari-jarinya, paham benar urusan itu. Tapi ketika engkau menanyakan kepadanya syarat bersuci, tentang shalat, dia tidak paham.

Kesimpulannya adalah: tidak mengerti itu adalah puncaknya kejahatan dan segala bala. Semuanya di dunia dan di akhirat. Seandainya berkumpul kepada orang-orang jahil itu musuh-musuhnya untuk dia mudhorot, dia tidak bisa karena saking bodohnya.

Dalam kebodohan itu, sebelum kematian itu, dia sudah mati. Sedangkan tubuh-tubuh mereka, sudah jadi kuburan sebelum dikubur. Bodoh itu sangat tercela secara mutlak, yang dimaksud ini adalah mereka tidak tahu pengetahuan tentang apa yang diwajibkan oleh Allah agar mereka paham. Maka dari itu, hati-hati saudaraku, keluar dari gelapnya kebodohan kepada cahaya ilmu pengetahuan. Tidak wajib meluaskan ilmu. Akan tetapi yang wajib itu sekedar yang engkau ketahui.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)