The Salahuddin Generation (Ep. 11): Salahuddin’s Legacy — Warisan Terbesar Bukan Tahta, Bukan Kota, Bahkan Bukan Yerusalem

Gambar
Ia mengalahkan para raja. Ia membebaskan Yerusalem. Ia mematahkan Perang Salib Ketiga. Tetapi pada akhirnya—apa yang paling ia takutkan? Apa yang paling ia rindukan? Dan apa yang paling ia titipkan? Episode penutup ini menjawab dengan kalimat yang menohok: yang paling besar dalam pandangan Salahuddin bukanlah kota, bukan kejayaan, bahkan bukan Yerusalem sebagai “trofi” sejarah. Yang paling besar adalah Allah , dan segala yang selain-Nya hanyalah jalan. 1) Mars Terakhir Menuju Yerusalem: “Tidak Ada Lagi yang Datang Menolong” Setelah bertahun-tahun perang, pasukan Frank akhirnya mencoba mengambil “hadiah utama”: Yerusalem . Salahuddin tahu, ini bukan sekadar pertempuran biasa. Maka ia mengumpulkan tentara dan berkata tegas: kalian adalah tentara Islam hari ini, darah, harta, dan keluarga kaum Muslim bergantung pada kalian, tidak ada Muslim lain yang akan datang menolong, ini amanah yang Allah letakkan di pundak kalian. Pidato ini bukan untuk membakar emosi semata, t...

Guru Umai - berdiri bebas diatas semua golongan

Guru Umai sekolah di Darul Hijrah. Ketika sekolah di pesantren, teman-teman SMP dan teman-teman di kampung ingin belajar, kemudian dibuatkan kegiatan Maulid dan majelis ta'lim ketika sedang pulang ke Kapuas. Setelah lulus dari Darul Hijrah pada akhir tahun 1996 dan pada awal tahun 1997 mulai membentuk majelis ta'lim anak-anak. Anak-anak dikumpulkan dan diajar mengaji.

Setelah itu ada anak Tsanawiyah yang ingin diajar shalat di rumah, mereka tidak ingin belajar di mushola karena berisik (orang belajar di TPA dengan suara keras). Mulanya hanya empat orang saja, pada bulan berikutnya pesertanya bertambah. Kegiatannya adalah membaca Shalawat Badar kemudian diberi nasehat, membaca kitab akhlak dengan topik-topik yang ringan.

Pada mulanya peserta majelis ta'lim adalah para pemain band, pemabuk. Mereka kemudian berhenti dari hal-hal tersebut sampai mau diajarkan Qur'an. Mereka masih belum dipaksa untuk shalat dulu. Alhamdulillah hal itulah yang berlanjut sampai sekarang. Beliau sempat kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Kapuas.

Pergaulan beliau yang luas dengan berbagai kalangan masyarakat membuat beliau memiliki kemampuan untuk menyampaikan dakwah sesuai dengan orang yang menerima dakwah. Bila dulu pola yang diterapkan cenderung seperti rehabilitasi, tapi sekarang karena sudah banyak yang punya anak, maka pola pendekatan sekarang adalah lebih menyentuh masalah rohani.

Selain menggunakan pendekatan pengajian umum, Guru Umai juga menyempatkan diri untuk lebih akrab dengan jama'ahnya misalnya dengan mancing bersama dan berkemah bersama.

Majelis ta'lim yang beliau pimpin memiliki slogan: Berdiri bebas diatas semua golongan.


Beliau berharap agar masyarakat Kapuas tidak mudah berburuk sangka kepada ulama-ulama yang ada di Kapuas. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas