The Salahuddin Generation (Ep. 7): — “Makam Nabi ﷺ Hampir Digali”: Saat Pilar Kepemimpinan Runtuh, Umat Terbelah… Lalu Disatukan oleh Ancaman yang Tak Terbayangkan

Gambar
 Ketika Nur ad-Din Zengi wafat, umat tidak hanya kehilangan seorang pemimpin—umat kehilangan paku penyangga yang menjaga persatuan. Dalam kekosongan itu, yang muncul bukan ketenangan, tetapi ketakutan, propaganda, transaksi harga diri , dan pecahnya loyalitas kota-kota Muslim. Namun episode ini menunjukkan satu ironi sejarah: ancaman paling keji justru menjadi pemantik persatuan terbesar. Sebab ketika sebuah rencana “mustahil” muncul—menggali makam Rasulullah ﷺ—dunia Islam tersadar: kalau bukan sekarang bersatu, kapan lagi? Ringkasan Per Segmen (dengan penanda waktu) 1) Wafatnya Nur ad-Din: Salahuddin Shock, Lalu Mengirim “Surat Persatuan” (0:00–3:52) Kabar wafat Nur ad-Din justru datang dari musuh. Salahuddin terguncang: Kalau benar wafat, mengapa ia tidak mendengar dari kaum Muslimin? Apakah ini rumor, tipu daya, atau tanda masalah besar? Respons Salahuddin bukan panik—tapi cepat dan terukur : ia mengirim surat ke kota-kota Syam, menekankan bahwa saat musibah jus...

LANGGAR DARUL KHAIR MENYEMBELIH HEWAN KORBAN

Yang menyembelihan hewan korban (sapi) tentunya bukan langgar DK, tetapi Bpk Guru Zainudin, tapi pelaksana/panitia korban adalah jama'ah Langgar Darul Khair. Pada tahun ini Langgar DK cuma menyembelih 1 (satu) sapi saja, dimana kupon yang dibagikan sebanyak 160 lembar.

Pelaksanaan jatuh pada hari ini Sabtu tanggal 11 Zulhidjah 1433 bertepatan tanggal 27 Oktober 2012. Satu hari sebelumnya Langgar DK juga melaksanakan Sholat Idul Adha berjamaah.

Hewan Korban yang telah disembelih

Pembagian Daging Korban

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas