Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

Sarapan Sesudah Kuliah Subuh

Jama'ah kuliah subuh sedang menikmati Nasi Kuning
Saat akhir kuliah subuh yang disampaikan oleh Ustadz Suriani Jiddy, Lc yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Agustus 2013 di Masjid Al-Ihsan, para jama'ah langsung menuju ke bagian belakang, rupanya sudah disiapkan nasi kuning. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Muhammadiyah Kecamatan Selat ini ingin membuat kebiasaan baru. Saat admin duduk untuk menyantap nasi kuning tersebut, Pak Sidik dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kapuas yang duduk di samping admin mengatakan bahwa makan sesudah kuliah subuh ini biasa dilakukan di Kauman, Jogjakarta. Karena selama menjadi mahasiswa di Jogjakarta, beliau selalu mengikuti kegiatan ini. Nasi kuning ini disiapkan oleh Masjid Al-Ihsan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas