The Salahuddin Generation (Ep. 7): — “Makam Nabi ﷺ Hampir Digali”: Saat Pilar Kepemimpinan Runtuh, Umat Terbelah… Lalu Disatukan oleh Ancaman yang Tak Terbayangkan

Gambar
 Ketika Nur ad-Din Zengi wafat, umat tidak hanya kehilangan seorang pemimpin—umat kehilangan paku penyangga yang menjaga persatuan. Dalam kekosongan itu, yang muncul bukan ketenangan, tetapi ketakutan, propaganda, transaksi harga diri , dan pecahnya loyalitas kota-kota Muslim. Namun episode ini menunjukkan satu ironi sejarah: ancaman paling keji justru menjadi pemantik persatuan terbesar. Sebab ketika sebuah rencana “mustahil” muncul—menggali makam Rasulullah ﷺ—dunia Islam tersadar: kalau bukan sekarang bersatu, kapan lagi? Ringkasan Per Segmen (dengan penanda waktu) 1) Wafatnya Nur ad-Din: Salahuddin Shock, Lalu Mengirim “Surat Persatuan” (0:00–3:52) Kabar wafat Nur ad-Din justru datang dari musuh. Salahuddin terguncang: Kalau benar wafat, mengapa ia tidak mendengar dari kaum Muslimin? Apakah ini rumor, tipu daya, atau tanda masalah besar? Respons Salahuddin bukan panik—tapi cepat dan terukur : ia mengirim surat ke kota-kota Syam, menekankan bahwa saat musibah jus...

Shalat - Pemahal-mahal Ibadah

Guru Parhani (ketiga dari kanan) sedang menyampaikan ceramah

Dalam ceramah Isra' MI'raj pada hari Senin, 26 Mei 2014 di Langgar Inayah Guru Parhani menyampaikan bahwa shalat adalah pemahal ibadah. Bila ibadah lain perintah mengerjakannya disampaikan melalui malaikat jibril, maka shalat ini perintahnya disampaikan langsung kepada Nabi Muhammad SAW.

Bila kita ingin mengirim beras dari anjir serapat ke barabai, maka kita berani menitipkannya pada travel. Tapi bila kita mau mengirim satu kilo emas, maka kita tidak berani mengirimnya lewat travel. Kita akan mengantarnya sendiri atau memanggil orang yang akan dikasih tersebut.

Saat ini masih banyak kaum Muslimin yang mengabaikan sesuatu yang lebih berharga (shalat) dan cenderung mengambil sesuatu yang lebih murah yaitu ibadah lain. Padahal shalat merupakan kepalanya ibadah. Bila orang tidak shalat maka ibadah lainnya menjadi tidak berarti.

Shalat seharusnya bisa membuat seseorang bisa menghindari perbuatan keji dan mungkar. Buya Hamka pernah ditanya mengapa orang yang shalat akhlaknya tetap buruk dibandingkan orang yang tidak shalat. Buya Hamka menjawab bahwa kalau orang yang tidak shalat itu shalat maka dia akan lebih bahagia, Kalau orang yang shalat itu memperbaiki shalatnya maka dia akan lebih baik akhlaknya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas