Dari Rotan Berduri Menjadi Tikar Bernilai Jual

Gambar
Pada Minggu, 2 Agustus 2026, saat melintasi RT 2 Desa Sei Kayu yang berada di tepian Sungai Kapuas, saya melihat seorang pria sedang sibuk membersihkan beberapa batang rotan. Pemandangan tersebut menarik perhatian saya. Saya pun memarkirkan sepeda motor dan menghampirinya. Setelah saling menyapa, percakapan kami berkembang mengenai proses pengolahan rotan hingga menjadi bahan baku tikar anyaman. Di tangan masyarakat setempat, rotan berduri yang tumbuh liar menjulang di antara pepohonan ternyata dapat diolah menjadi barang yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Bapak tersebut bercerita bahwa rotan yang sedang dibersihkannya berasal dari kebun karet yang juga ditanami rotan. Tanaman itu diperkirakan telah berusia sekitar sepuluh tahun. Rotan dikenal memiliki banyak duri sehingga tidak mudah untuk ditarik dan dipanen. Menurutnya, sebelum menarik rotan, duri-duri pada bagian batang yang akan dipegang harus dibersihkan terlebih dahulu. Setelah bagian tersebut aman, barulah rotan dapat...

Mati Satu Tumbuh Seribu

Tumbuh kembali setelah dipotong
Sebagian besar tumbuhan bila di potong batangnya, maka dia akan menumbuhkan lagi cabang-cabang baru yang jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya.
Cabang baru tumbuh dari pohon mangga
Sifat ini patut kita tiru sebagai manusia. Bila kita sedang dalam sebuah proses untuk menjadi besar maka tidak perlu takut dengan tantangan, halangan, kesalahan, kegagalan. Jadilah seperti tumbuhan, yang mereka bisa bangkit kembali setelah jatuh, yang bisa tumbuh lagi setelah dipotong batangnya. Kegagalan, tantangan, halangan, kesalahan harusnya bisa membuat kita lebih baik dari sebelumnya, bahkan bisa membuat prestasi yang luar biasa pada masa mendatang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)