Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

dr. Tonun Irawaty, nominator dokter teladan

Spanduk ucapan selamat datang bagi tim penilai
Pada hari Sabtu 18 April 2015 ada suasana lain di Puskesmas Melati, Kec. Selat Kab. Kapuas. Rupanya pagi itu semua sedang bersiap-siap kedatangan tamu dari Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangka penilaian tenaga kesehatan teladan tingkat provinsi Kalteng. Dari 4 tenaga kesehatan yang diusulkan dari Kabupaten Kapuas , hanya dr. Tonun Irawaty P yang berhasil masuk menjadi salah satu nominator untuk kategori tenaga medis (dokter).

dr. Agustina Ponasti dan dr. Herry Tjahyono (dua tengah)
Presentasi telah dipaparkan awal April yang lalu, dan kali ini para tim juri akan melakukan klarifikasi di lapangan. Aspek yang dinilai tentu tidak hanya pribadi sebagai seorang tenaga medis, namun sejauh mana kiprah di puskesmas (manajemen, upaya kesehatan perorangan, upaya kesehatan masyarakat), pelibatan peran serta masyarakat, organisasi profesi, lintas sektor, dan sebagainya. 
Tim Juri yang hadir adalah dr. Hery dari Ikatan Dokter Indonesia dan dr. Agustina Ponasti dari Dinkes Provinsi Kalteng. 

Sambutan dr. Tonun Irawaty
Momen penilain ini cukup meriah karena dihadiri pula oleh para tokoh masyarakat, PKK, kader posyandu (menyambut dengan rebananya), anak-anak PAUD binaan Puskesmas Melati, organisasi profesi, perwakilan Kecamatan, Lurah, Polres, pendeta, tokoh agama, selain tentunya dari Dinas Kesehatan.

Semoga momentum penilaian ini membawa kebaikan bagi majunya pelayanan kesehatan di Kabupaten Kapuas. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas