Menyendiri di Akhir Hidup: Pelajaran dari Jepang dan Implikasinya untuk Kapuas

Gambar
  Pendahuluan: Saat membaca salah satu subyek email dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health – Global Health Now yang berjudul “Dying Alone in Japan”, saya langsung membuka email tersebut dan mencari tautan untuk membaca artikelnya. Rupanya artikel ini dari The Guardian ( Life at the heart of Japan’s lonely deaths epidemic: ‘I would be lying if I said I wasn’t worried’ | Japan | The Guardian ). Sedih juga membacanya, bagaimana begitu banyak orang tua di Jepang yang meninggal dalam keadaan tidak ditemani oleh siapa pun. Bahkan ada yang tetangganya baru mengetahui yang bersangkutan meninggal setelah lima bulan. Hal ini mengingatkan penulis saat tinggal di barak di Kelvin Grove Road, Brisbane, Australia. Di samping barak yang penulis tempati, ada seorang nenek. Setiap hari nenek tersebut dikunjungi oleh seorang kakek yang sering mengetuk pintu kamarnya, kemudian menanyakan bagaimana kabarnya. Setelah penulis baca-baca tentang kehidupan di Australia, ternyata kakek tersebut mel

Dakwah Islamiyah (Fikih Dakwah Kepada Allah)


Oleh: Ustadz Suriani Jiddy, Lc

Dakwah merupakan tugas utama utusan Allah. Tidak sedikit kaum Muslimin yang salah persepsi ketika mendengar kata dakwah. Ini berimplikasi pada sikap / tindakan. Kajian ini penting agar kita punya persepsi yang benar. Dengan persepsi ini kita bisa mengambil peran dalam dakwah ini sekecil apapun. Setiap kita bisa mengambil peran dalam dakwah ini. Yang tidak mengambil peran, rugi dunia dan akhirat.

Ulama mengatakan: tatkala kita mengatakan kita cinta kepada Rasulullah SAW, sebagai konsekuensi dari syahadat, maka kita harus mencintai Nabi dan Rasul. Para ulama mengatakan bukti terbesar bahwa kita mencintai Nabi SAW adalah kita meneruskan dakwahnya.

Kemarin kita sudah sampai pada manhaj dan metode dakwah. Mengetahui perbedaan antara keduanya sangat penting.

Q.S. Yusuf, 12: 108
Katakanlah:  Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.

Perintah dakwah kepada Rasulullah adalah juga perintah dakwah kepada kita semua agar:
1.       Qul hazihi. Kita menampakkan identitas kita sebagai seorang Muslim, bangga dengan keislaman kita. Kalau kita tidak bangga dengan keislamannya maka ini musibah. Ini yang dikehendaki oleh orang-orang kafir. Kita harus bangga dengan risalah yang kita bawa. Kita tidak sekedar membanggakan keislaman kita, tapi benar-benar kita menampakkan bahwa kita seorang Muslim. Ini dapat kita jadikan sebagai sarana dalam berdakwah. Karena dakwah yang paling efektif adalah dengan jalan memberi keteladanan. Para ulama mengatakan dalam bab ini: Bahasa fisik (tubuh) lebih tajam daripada bahasa lisan. Untuk apa kita berkoar-koar, mempropagandakan pentingnya shalat berjama’ah sementara kita sendiri tidak pernah ke masjid. Untuk apa kita mempropagandakan kedisiplinan sementara kita sendiri tidak pernah disiplin. Kita tidak sekedar bangga dengan kemusliman, tapi bagaimana kita bisa menampakkannya.

2.       Sabiili. Jalanku itu adalah agama, Qur’an, sunnah Rasulullah. Allah ketika menjelaskan jalannya adalah tunggal (sabil). Contohnya dalam Q.S. An Nahl, 16: 125. Allah menggunakan kata sabil. Untuk jalan-jalan yang lain, Allah menyebutnya Subul. …..wala tattabi’u subul…

3.       Ad’u ilallah. Aku menyeru manusia ke jalan Allah. Dakwah hanya boleh kepada Allah. Dakwah kepada yang lain kalau dilakukan, telah menyimpang dari prinsip dakwah yang diajarkan oleh Rasulullah. Ud’u ila sabili rabbika, serulah kepada jalan Tuhanmu. Tidak boleh menyeru kepada organisasi, partai tertentu, golongan, kelompok. Semuanya bukan tujuan, tapi merupakan sarana.

4.       ‘ala bashirah. Makna bashirah menurut syaikh Utsaimin:
a.       bashirah terhadap apa yang didakwahkan artinya ilmu. Untuk berdakwah harus berilmu. Untuk berdakwah harus berilmu. Dakwah itu adalah memberi. Bagaimana memberi kalau tidak memiliki. Bagaimana memperbaiki kalau kita tidak punya alat untuk memperbaiki. Dakwah yang  dilakukan tanpa ilmu akan lebih banyak menimbulkan mudharat daripada manfaat.
b.       Bashirah terhadap obyek dakwah. Kita mendakwahkan manusia. Ibnu Abbas r.a berkata: ketika Rasulullah SAW mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman beliau bersabda kepada: Wahai Muadz, engkau akan datang kepada suatu kaum dari ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Ada apa dengan Yahud dan Nasrani. Ahli kitab punya karakter yang khas yaitu keras kepala, sangat mudah membangkang dan sangat sulit menerima kebenaran. Jadi kita harus tahu strateginya.

Pengetahuan tentang obyek dakwah. Muadz bin Jabal r.a. berkata:  Rasulullah menanyakan apa hak Allah yang wajib dipenuhi seorang hamba dan apa hak manusia yang wajib dipenuhi Allah SWT. Allah dan Rasul yang lebih mengetahui. Hak Allah yang wajib dipenuhi hamba Nya adalah beribadah dan tidak berbuat syirik. Adapun hak hamba yang pasti diberikan Allah ta’ala adalah dia tidak akan menyiksanya ketika dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Aku berkata, apakah hal ini boleh aku sampaikan kepada yang lain sebagai kabar gembira. Nabi: jangan. Yang ini jangan diberi tahu kepada manusia. Nanti mereka akan menyandarkan diri.

Rasulullah khawatir kalau umatnya tidak akan beribadah setelah mengetahui hadits ini.

Komentar Syaikh Muhammad At Tamimi:
15. Masalah ini ternyata tidak diketahui oleh mayoritas sahabat.
16. Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahat.

Maknanya, ilmu tidak semuanya harus disampaikan kepada semua orang. Ada orang-orang tertentu yang tidak boleh tahu masalah tertentu. Karena kalau dia tahu ini akan menjadi masalah baginya. Inilah perlunya kita mengetahui kepada siapa kita berdakwah.

Imam Bukhari membuat satu buat khusus tentang mengkhususkan (mengajarkan) suatu ilmu kepada orang tertentu karena khawatir yang lain tidak dapat memahaminya. Sebab kalau disampaikan kepada semua orang maka mereka tidak akan memahami.

Imam Ali RA: ajaklah manusia menurut tingkat pengetahuan mereka, apakah kamu mau Allah dan Rasul-Nya didustakan.

Kita kemukakan ayat dan hadits. Tapi karena dia tidak nyambung, maka mereka mendustakannya.
Abdullah bin Mas’du RA: Tidaklah engkau berbicara kepada suatu kaum dengan sesuatu diluar kemampuan mereka untuk memahaminya, melainkan akan menjadi fitnah di kalangan mereka. Bencananya adalah mereka tidak percaya atau tidak mengimaninya.

Ketika ditunjukkan tentang lingkaran, ini menggambarkan metode dakwah, yaitu antara orang yang kita dakwahi dan materi dakwah yang kita sampaikan. Gambaran ini disampaikan oleh Syaikh Said. Kata beliau ketika kita berdakwah, dakwah itu bisa kita sampaikan dimana saja dan kapan saja, seperti lingkaran ini. Dalam lingkaran yang paling besar, kita bisa menyampaikan materi dakwah yang mereka pahami. Materinya sangat umum, universal. Dapat dipahami oleh semua. Bahkan di beberapa tempat yang kita tidak boleh berdakwah disitu, dalam lingkaran itu bisa  kita lakukan. Sebagai contoh: dahulu Uni Soviet sangat represif terhadap orang yang melaksanakan agama. Untuk shalat perlu mencari tempat yang tersembunyi. Apa yang bisa kita lakukan. Pemerintah tidak melarang untuk mengajarkan Qur’an. Kita berikan materi yang umum. Saat khutbah Jum’at, lingkarannya adalah lingkaran yang umum. Jama’ahnya adalah orang umum, dari masalah umum mulai dari masalah shalat, berbakti kepada orang tua dan lain-lain.

Ketika masuk ke lingkaran kecil, tentu materinya tidak sama dengan materi yang kita ajarkan pada lingkaran besar. Materi pada lingkaran kecil tidak cocok untuk lingkaran besar karena materinya makin berat. Sampai kita pada lingkaran dimana kita bisa berbicara apapun tentang Islam, karena semua sudah mengerti.

Pertanyaannya adalah: kalau Rasulullah melarang Muaz bin Jabal untuk menyampaikan kepada kita, mengapa kita mendengar hadits tersebut. Hadits ini disampaikan oleh Muaz bin Jabal saat menjelang ajalnya karena khawatir dengan klausul menyembunyikan ilmu. Larangan ini bukan larangan mutlak karena ini adalah larangan karena adanya maslahat. Ketika Muaz melihat kondisi umat sudah baik, beliau menyampaikan hadits ini kepada sahabat yang lain. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Laki-laki adalah "qawwam" bagi perempuan