Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

Pasar tradisional bertahan menghadapi "pasar modern"


Sore ini, (12 Maret 2016) admin kembali menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ke Pasar Sabtu yang ada di Jalan Kapten Pierre Tendean, Kuala Kapuas. Pasar ini sekarang makin panjang. Dari ujung ke ujung memerlukan waktu perjalanan lima menit. Tentu saja lambatnya perjalanan dikarenakan banyaknya orang yang ada di jalan.

Pelanggan pasar ini adalah para penghuni rumah yang ada di Jalan Kapten Pierre Tendean dan sekitarnya serta masyarakat yang ada di seberang seperti dari Desa Panamas dan Tarantang. Kalau dilihat dari jenis barang yang dijajakan, tampak bahwa makin variatif barang-barang yang dijual.

Keberadaan minimarket (Alfamart, Indomaret) yang makin menjamur masih belum menyurutkan langkah orang untuk berbelanja ke pasar tradisional ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas