 |
| Ustadz Amanto Surya Langka, Lc |
Kaanu qaliilan minal
lail – mereka menyedikitkan tidur waktu malam. Hari-hari normal, tidur mereka
sedikit. Waktu sahur mereka
beristighfar. Lambung-lambung mereka, mereka jauhkan dari tempat tidur. Para sahabat
itu seperti karakter mereka. Sehingga disebut rahib di malam hari, siang hari
seperti penunggang kuda. Hari biasa saja diminta mengurangi tidur diwaktu
malam. Wahai orang-orang yang berselimut, bangunlah untuk shalat di malam hari.
Setengahnya, atau kurang sedikit atau tambah dari setengah. Sesungguhnya Tuhanmu
tahu bahwa kamu mengerjakan qiyamul lail, sepertiga malam … orang yang
menyertai kamu juga melakukan hal yang demikian. Allah tahu diantara kalian ada yang sakit (betul-betul sakit,
sakit-sakitan, atau pura-pura sakit).
Secara umum, malam tidak digunakan
semalam suntuk digunakan untuk tidur. Kalau ingin membuat kualitas umat menjadi
baik, ada porsi Allah disana. Pada sebagian malam, lakukanlah tahajud, sebagai
ibadah tambahan. Hal itu akan membuat engkau mendapatkan kedudukan yang
terpuji. Pada sebagian malam ada jatah Allah, disamping ada jatah istri,
sebagaimana kisah Abu Darda’. Ketika Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’, dia
menemui istrinya acak-acakan, badannya tidak terurus. Istrinya mengatakan bahwa Abu Darda’ tidak perlu
dengan dunia. Sepanjang malam shalat. Sepanjang siang puasa. Salman menginap. Begitu malam, Abu Darda’ sudah
mau qiyamul lail. Disuruh tidur. Sepertiga malam terakhir baru shalat. Ketika
hal ini dilaporkan kepada Rasulullah, beliau membenarkan Salman. Dirimu punya
hak, istri punya hak.
Jadi bukan
seluruh malam untuk tidur. Ada waktu untuk shalat malam dan istighfar. Paling sedikit shalat malam adalah witir satu
rakaat. Apalagi bulan puasa. Jadi bukan masalah tidur atau bangun, tapi
bagaimana kualitasnya.
Ibnu Qayim – orang puasa
itu tidak ada pekerjaannya. Dulu saat Ramadhan ada perang Badr, Fathu Mekah,
kemerdekaan RI, penaklukan Palestina – bulan Jihad. Jadi perlu dibahas fiqh
tidur.
Kalau 1/3 hari
digunakan untuk tidur. 1/3 hari digunakan untuk bekerja. Shalat wajib saja
tidak sampai 1 jam sehari. Bagaimana sisa waktu bisa produktif, kalau bisa ada
qiyamul lail sebagai pelengkap dari shalat wajib.
Kami jadikan
malam sebagai selimut dan kami jadikan siang itu untuk mencari maisyah.
Sehingga dalam
puasa perlu alokasi waktu di malam hari untuk lebih banyak membaca Qur’an.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!