Kapuas Lebih Aman: Saat Pasien dan Keluarga Jadi “Mitra” Keselamatan Pelayanan Kesehatan

Gambar
  Kalau mendengar kata keselamatan pasien , banyak orang membayangkan urusan rumah sakit saja—alat canggih, dokter spesialis, ruang operasi. Padahal, keselamatan pasien dimulai dari hal yang paling dekat dengan kita: komunikasi yang jelas, obat diminum dengan benar, kebiasaan cuci tangan, dan keputusan berobat yang dipahami pasien serta keluarganya. WHO melalui Global Patient Safety Action Plan 2021–2030 menegaskan visi dunia “tidak ada yang dirugikan dalam pelayanan kesehatan” dan salah satu prinsip utamanya adalah melibatkan pasien dan keluarga sebagai mitra dalam perawatan yang aman .  Lebih jauh, WHO menekankan bahwa layanan kesehatan itu “diproduksi bersama” antara tenaga kesehatan dan pengguna layanan; karena itu keselamatan akan lebih mudah dicapai bila pasien terinformasi, dilibatkan, dan diperlakukan sebagai partner penuh , mulai dari kebijakan hingga keputusan di titik layanan ( shared decision-making ).  Di Kabupaten Kapuas—dengan wilayah yang luas, banyak des...

Tidur di bulan Ramadhan

Ustadz Amanto Surya Langka, Lc
Kaanu qaliilan minal lail – mereka menyedikitkan tidur waktu malam. Hari-hari normal, tidur mereka sedikit. Waktu sahur mereka beristighfar. Lambung-lambung mereka, mereka jauhkan dari tempat tidur. Para sahabat itu seperti karakter mereka. Sehingga disebut rahib di malam hari, siang hari seperti penunggang kuda. Hari biasa saja diminta mengurangi tidur diwaktu malam. Wahai orang-orang yang berselimut, bangunlah untuk shalat di malam hari. Setengahnya, atau kurang sedikit atau tambah dari setengah. Sesungguhnya Tuhanmu tahu bahwa kamu mengerjakan qiyamul lail, sepertiga malam … orang yang menyertai kamu juga melakukan hal yang demikian. Allah tahu diantara kalian ada yang sakit (betul-betul sakit, sakit-sakitan, atau pura-pura sakit). 

Secara umum, malam tidak digunakan semalam suntuk digunakan untuk tidur. Kalau ingin membuat kualitas umat menjadi baik, ada porsi Allah disana. Pada sebagian malam, lakukanlah tahajud, sebagai ibadah tambahan. Hal itu akan membuat engkau mendapatkan kedudukan yang terpuji. Pada sebagian malam ada jatah Allah, disamping ada jatah istri, sebagaimana kisah Abu Darda’. Ketika Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’, dia menemui istrinya acak-acakan, badannya tidak terurus. Istrinya mengatakan bahwa Abu Darda’ tidak perlu dengan dunia. Sepanjang malam shalat. Sepanjang siang puasa. Salman menginap. Begitu malam, Abu Darda’ sudah mau qiyamul lail. Disuruh tidur. Sepertiga malam terakhir baru shalat. Ketika hal ini dilaporkan kepada Rasulullah, beliau membenarkan Salman. Dirimu punya hak, istri punya hak.

Jadi bukan seluruh malam untuk tidur. Ada waktu untuk shalat malam dan istighfar. Paling sedikit shalat malam adalah witir satu rakaat. Apalagi bulan puasa. Jadi bukan masalah tidur atau bangun, tapi bagaimana kualitasnya.

Ibnu Qayim – orang puasa itu tidak ada pekerjaannya. Dulu saat Ramadhan ada perang Badr, Fathu Mekah, kemerdekaan RI, penaklukan Palestina – bulan Jihad. Jadi perlu dibahas fiqh tidur.

Kalau 1/3 hari digunakan untuk tidur. 1/3 hari digunakan untuk bekerja. Shalat wajib saja tidak sampai 1 jam sehari. Bagaimana sisa waktu bisa produktif, kalau bisa ada qiyamul lail sebagai pelengkap dari shalat wajib.
Kami jadikan malam sebagai selimut dan kami jadikan siang itu untuk mencari maisyah.

Sehingga dalam puasa perlu alokasi waktu di malam hari untuk lebih banyak membaca Qur’an. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas