Ketika Seorang Perempuan Yahudi Berdiri Membela Palestina

Gambar
Di tengah perdebatan yang semakin panas mengenai Palestina, ada satu kesaksian yang menarik perhatian dunia. Bukan karena disampaikan dengan suara lantang atau penuh kemarahan, melainkan karena ketenangan, kejernihan berpikir, dan keberanian moral yang ditunjukkan oleh seorang perempuan muda Yahudi bernama Yasmine Johnson . Saya menyaksikan kesaksiannya dalam sidang Royal Commission into Anti-Semitism and Social Cohesion di Australia. Selama hampir satu jam, ia menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tajam mengenai pandangannya tentang Palestina, Zionisme, kebebasan berpendapat, hingga tuduhan antisemitisme. Namun yang membuat saya benar-benar kagum bukanlah semata-mata isi argumennya, melainkan cara ia menyampaikannya. Tidak terlihat emosi yang meledak-ledak. Tidak ada nada marah. Tidak pula usaha menyerang lawan bicara secara pribadi. Sebaliknya, ia menjawab hampir setiap pertanyaan dengan tenang, sistematis, dan konsisten. Seorang Yahudi yang Memisahkan Agama dan Negara Yasmine Johns...

"Bener kata abi"

Bulan Ramadhan yang lalu, seorang anak perempuan bercerita pada abi (ayah) nya tentang pengalamannya mengurus "surat izin". Dia bilang bahwa setelah mendaftar dia diminta untuk mengikuti tes dengan menggunakan alat khusus. Ketika dia menjawab pertanyaan pada alat tersebut, nilainya tidak memenuhi syarat untuk lulus. Dia diminta datang lagi minggu depan untuk mengulang tes tersebut.

Dia bilang sama abinya. "Aye pikir mengurus 'surat izin' ini gampang saja, karena aye sudah dengar dari teman-teman bahwa mengurusnya cukup sehari saja". Abinya lalu bilang, "Mungin karena sekarang sedang bulan Ramadhan, petugasnya tidak mau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan prosedur, mungkin nanti kalau Ramadhan berakhir, 'surat izin' itu bisa diurus dalam waktu sehari."

Minggu berikutnya anak perempuan tersebut kembali mengikuti tes ulangan itu. Dan dia lulus. Berikutnya dia harus harus melakukan tes praktek. Dalam tes praktek tersebut dia tidak lulus. Dia diminta lalu untuk datang seminggu lagi.

Minggu berikutnya anak perempuan tersebut datang lagi untuk mengikuti tes praktek. Kembali dia tidak lulus, dan diminta lagi untuk datang pada minggu berikutnya. Namun karena anak perempuan tersebut "pulang kampung" dan mengurus pendaftaran kuliahnya, dia tidak sempat mengikuti tes praktek pada minggu berikutnya.

Setelah Ramadhan berakhir, pada pertengahan bulan Syawal, anak perempuan ini kembali mengurus "surat izin" tersebut. Kali ini petugasnya "menawarkan bantuan" kalau ingin cepat mengurus "surat izin" tersebut. Setelah menerima tawaran tersebut, anak perempuan tersebut mengirim SMS kepada abinya, "Bener kata abi."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)