Ingin Memengaruhi Seseorang? Bukan Menggurui Jawabannya, Tapi Mendengarkan

Gambar
  Dalam hidup, kita seringkali ingin orang lain memahami dan menerima sudut pandang kita. Entah itu dengan pasangan, teman, atau rekan kerja. Ketika dihadapkan pada perbedaan pendapat mengenai sesuatu yang kita anggap penting, insting pertama kita biasanya adalah berusaha sekuat tenaga mempertahankan posisi kita. Kita merasa perlu untuk menjelaskan argumen kita sejelas mungkin. Namun, pernahkah Anda sadar bahwa semakin kuat Anda memegang pendapat, semakin sempit pula ruang percakapan yang ada? Diskusi yang seharusnya menjadi ajang eksplorasi ide berubah menjadi ajang saling melindungi ego. Begitu seseorang merasa diserang dan masuk ke mode bertahan, akan sangat sulit untuk mencapai kemajuan apa pun. Kekuatan dari Merasa Didengarkan Ternyata, ada cara lain yang lebih efektif. Cara tercepat untuk memengaruhi seseorang bukanlah dengan menggurui, melainkan dengan mendengarkan. Sebuah studi pada tahun 2017 oleh para peneliti Guy Itzchakov, Avraham Kluger, dan Dotan Castro membuktikan ha...

"Bener kata abi"

Bulan Ramadhan yang lalu, seorang anak perempuan bercerita pada abi (ayah) nya tentang pengalamannya mengurus "surat izin". Dia bilang bahwa setelah mendaftar dia diminta untuk mengikuti tes dengan menggunakan alat khusus. Ketika dia menjawab pertanyaan pada alat tersebut, nilainya tidak memenuhi syarat untuk lulus. Dia diminta datang lagi minggu depan untuk mengulang tes tersebut.

Dia bilang sama abinya. "Aye pikir mengurus 'surat izin' ini gampang saja, karena aye sudah dengar dari teman-teman bahwa mengurusnya cukup sehari saja". Abinya lalu bilang, "Mungin karena sekarang sedang bulan Ramadhan, petugasnya tidak mau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan prosedur, mungkin nanti kalau Ramadhan berakhir, 'surat izin' itu bisa diurus dalam waktu sehari."

Minggu berikutnya anak perempuan tersebut kembali mengikuti tes ulangan itu. Dan dia lulus. Berikutnya dia harus harus melakukan tes praktek. Dalam tes praktek tersebut dia tidak lulus. Dia diminta lalu untuk datang seminggu lagi.

Minggu berikutnya anak perempuan tersebut datang lagi untuk mengikuti tes praktek. Kembali dia tidak lulus, dan diminta lagi untuk datang pada minggu berikutnya. Namun karena anak perempuan tersebut "pulang kampung" dan mengurus pendaftaran kuliahnya, dia tidak sempat mengikuti tes praktek pada minggu berikutnya.

Setelah Ramadhan berakhir, pada pertengahan bulan Syawal, anak perempuan ini kembali mengurus "surat izin" tersebut. Kali ini petugasnya "menawarkan bantuan" kalau ingin cepat mengurus "surat izin" tersebut. Setelah menerima tawaran tersebut, anak perempuan tersebut mengirim SMS kepada abinya, "Bener kata abi."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas