Kapuas Lebih Aman: Saat Pasien dan Keluarga Jadi “Mitra” Keselamatan Pelayanan Kesehatan

Gambar
  Kalau mendengar kata keselamatan pasien , banyak orang membayangkan urusan rumah sakit saja—alat canggih, dokter spesialis, ruang operasi. Padahal, keselamatan pasien dimulai dari hal yang paling dekat dengan kita: komunikasi yang jelas, obat diminum dengan benar, kebiasaan cuci tangan, dan keputusan berobat yang dipahami pasien serta keluarganya. WHO melalui Global Patient Safety Action Plan 2021–2030 menegaskan visi dunia “tidak ada yang dirugikan dalam pelayanan kesehatan” dan salah satu prinsip utamanya adalah melibatkan pasien dan keluarga sebagai mitra dalam perawatan yang aman .  Lebih jauh, WHO menekankan bahwa layanan kesehatan itu “diproduksi bersama” antara tenaga kesehatan dan pengguna layanan; karena itu keselamatan akan lebih mudah dicapai bila pasien terinformasi, dilibatkan, dan diperlakukan sebagai partner penuh , mulai dari kebijakan hingga keputusan di titik layanan ( shared decision-making ).  Di Kabupaten Kapuas—dengan wilayah yang luas, banyak des...

Pengantar tentang munafik

Oleh: Nouman Ali Khan

Munafik adalah masalah yang kompleks. Allah mengungkapkan golongan ini dalam berbagai surat dalam Al-Qur'an, termasuk dalam surat Al-Munafiqun. Kondisi orang-orang munafik ini sangat dinamis, suatu saat dia beriman, suatu saat dia kafir. Terkadang seperti orang yang sehat, tapi disaat lain tampak seperti orang yang sakit berat, sehingga sangat sulit untuk diidentifikasi.

Orang-orang munafik jauh lebih buruk dari orang kafir. Beda antara munafik di zaman Rasulullah, para sahabat dan kita, sangat berbeda. Apa yang sudah dilakukan oleh para sahabat, tidak bisa kita tiru sekarang. Mereka adalah generasi terbaik. Orang terburuk seperti Fir'aun, Abu Lahab tidak akan kita temui lagi sekarang. Kebaikan dan keburukan mereka tidak ada bandingan. Kemunafikan di zaman Rasulullah tidak akan bisa dibandingkan dengan zaman kita. Kita membaca Qur'an, mereka mendengar Qur'an.

Allah membuat orang-orang munafik ini sebagai misteri. Rasulullah tidak pernah menyebut nama orang munafik. Meskipun semua sahabat tahu bahwa Abdullah bin Ubai bin Salul adalah orang munafik, tapi mereka tidak pernah menyebutnya.

Madinah memiliki dua kabilah besar yaitu Aus dan Khazraj. Abdullah bin Ubai bin Salul adalah calon pemimpin Madinah, karena dia merupakan pemimpin dari kabilah terbesar di Madinah. Beberapa hari sebelum dia dinobatkan sebagai pemimpin Madinah, Rasulullah datang ke Madinah. Kepemimpinan beralih ke tangan Rasulullah. Karena dia tidak mungkin menentang Rasulullah, dia bergabung dengannya. Jadi dia bergabung dengan Islam adalah sebagai satu-satunya cara baginya untuk tetap mendapat tempat diantara kaumnya.

Islam menuntut pengorbanan. Diantara para sahabat yang paling hebat pengorbanannya adalah para muhajirin. Jadi orang-orang yang berada di sekitar Rasulullah sebagian besar adalah Muhajirin. Ketika Abdullah bin Ubai bin Salul ingin mendekati Rasulullah, dia harus menunjukkan kredibilitasnya. Tapi dia tidak bisa menandingi para Muhajirin. Akhirnya dia mencoba untuk menjadi orang yang paling dekat shalatnya dengan Rasulullah.

Dia benci Rasulullah karena beliaulah yang telah membuatnya gagal menjadi pemimpin. Ketika Perang Badr akan berlangsung, dia tidak mau pergi perang. Dia menganggap bahwa yang pergi perang adalah orang-orang yang rendah. Tapi Islam sudah menghapuskan "kasta". Sekarang dia harus berdiri dan duduk berdampingan dengan orang-orang yang selama ini dinilai rendahnya olehnya seperti para budak dan orang-orang miskin. Dia harus bersama mereka saat shalat. Hal ini sulit baginya.

Hal ini juga terjadi dengan kaum Nuh dan Shalih yang mengeluhkan bahwa mereka ingin menerima ajarannya, tapi mereka melihat Nabi-Nabi tersebut berasal dari kalangan yang lebih rendah dari mereka.

Berbagai grup dituju oleh ayat Al Baqarah, 2: 8 ketika Allah menyebutkan "diantara manusia" Contohnya ketika disebuah kelas seorang guru menyebutkan bahwa salah satu dari para murit berada dalam masalah yang besar. Maka semua orang yang punya masalah akan merasa bahwa kalimat tersebut ditujukan kepada mereka.

Ketika orang menerima Islam saat ini berbeda antara dulu dan sekarang. Sekarang orang bisa masuk Islam hanya dengan menonton ceramah tentang Islam, baca buku tentang Islam atau membaca Qur'an. Setelah masuk dalam Islam maka kebiasaan sehari-harinya berubah, misalnya bangunnya lebih pagi untuk shalat Subuh, tidak lagi memakan sesuatu yang diharamkan dan lain-lain.

Tapi di zaman Rasulullah ketika seseorang masuk Islam, mereka mendeklarasikan perang dengan kabilah terbesar di Jazirah Arab. Artinya mereka masuk dalam militer. Pada periode Mekah belum ada kewajiban untuk puasa, belum diwajibkan shalat lima waktu, perintah untuk berhijab belum diturunkan, tidak ada yang kita pikirkan Islam saat ini, belum ada saat itu. Ketika seseorang memeluk Islam, mereka harus melepaskan loyalitasnya dari kabilah ke Rasulullah. Anda tidak hanya bergabung dengan agama, tetapi juga sebuah "gerakan". Mereka diminta untuk sedekah, hijrah dan diminta untuk berperang.

Orang Munafik tidak siap untuk berperang. Mereka tidak siap untuk hal tersebut. Kalau kita lihat jumlah pedang, kita lihat bahwa latar belakang mereka bukanlah militer. Jadi ketika Islam meminta pengorbanan harta dan jiwa, orang munafik mundur. Abdullah bin Ubai bin Salul membuat mereka makin ragu-ragu dengan Islam.

Yahudi Madinah terbagi menjadi dua kategori.

Kategori pertama adalah para Rabi Yahudi. Mereka sangat takut ketika mereka melihat Rasulullah. Rabi adalah mereka yang memberikan khutbah, ceramah, fatwa tentang agama. Masyarakat akan pergi kepada mereka untuk berbagai urusan mereka. Kalau mereka menerima Islam, maka seluruh pengikutnya tidak akan lagi pergi kepada mereka. Mereka tidak akan lagi bicara, mereka akan mendengar Rasulullah. Kalau mereka menerima Islam, seluruh karirnya akan hilang. Pengaruh mereka akan hilang. Itulah sebabnya ulama yang korup dekat dengan politisi yang korup. Kalau mereka menerima Islam, maka seluruh pengikutnya akan Islam. Khutbah, ceramah mereka menyerang Rasulullah.

Kategori kedua adalah orang umum. Mereka senantiasa mendengar ceramah para Rabi tentang tanda-tanda Nabi terakhir dan tanda-tanda kedatangannya. Ketika mereka mendengar ceramah Rasulullah, mereka menemukan banyak kesamaan antara apa yang disampaikan oleh beliau dengan apa yang disampaikan oleh para rabi mereka. Ketika mereka mengkonfirmasi hal ini dengan para rabi mereka, berikut ini jawaban para rabi:

"Jangan bicara dengan mereka, jangan bilang bahwa apa yang mereka miliki sama dengan apa yang kamu miliki, karena ketika kalian menerima apa yang mereka katakan, maka kamu harus bergabung dengan mereka di medan peperangan, dan kamu akan terbunuh. Jangan katakan apapun. Kalau tidak maka di hari akhir Allah tidak akan bertanggung jawab pada kalian."

Nampaknya kondisi ini juga kita dengar dari kalangan kaum Muslimin yang mengatakan bahwa mereka tidak mau belajar tentang Islam. Karena kalau mereka belajar tentang Islam, maka mereka akan dituntut untuk bertanggung jawab dengan apa yang mereka ketahui.

Ketika orang-orang munafik menyebutkan bahwa mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhir, mereka melewatkan keimanan kepada Rasulullah. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas