Surat Al-Baqarah ayat 21, 23-24 Day 9

Oleh: Nouman Ali Khan

Mengulang ayat sebelumnya,

21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa

Dalam beberapa bagian lain dari Qur'an yang lain, kita menemukan bahwa Allah menyebutkan bahwa dia adalah tuan kemudian baru menceritakan tentang penciptaan, misalnya dalam surat Al-A'la:

(1) Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, (2) yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya)

Demikian juga dalam ayat 21 diatas.

Secara logika kita akan mengatakan bahwa kita diciptakan dulu oleh Allah SWT, kemudian setelah kita baligh maka kita menyembah-Nya. Namun Allah membalik urutan tersebut.

Sejak kecil manusia sudah memiliki ketergantungan kepada orang-orang yang ada disekelilingnya. Setelah dia dewasa, barulah dia berpikir tentang untuk apa dia diciptakan, siapa yang menciptakannya. Kata Rabb mengandung semua makna yang diperlukan oleh kehidupan manusia. Allah adalah yang menciptakan kita.

Ketika manusia dilahirkan, dia punya loyalitas pada orang tua, suku, budaya, afiliasi, tuannya. Anak buah biasanya taat pada tuannya sepanjang tuannya masih hidup. Loyalitasnya juga ditujukan kepada apa-apa yang dibawa oleh para nenek moyangnya.

Ayat 21 diatas mengingatkan kepada manusia tentang kepada siapa loyalitas itu harus diberikan. Allah mengingatkan manusia bahwa Dia-lah yang menciptakan mereka dan orang-orang yang sebelumnya....

23. Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Makna kata "surah" adalah dinding yang melindungi kota. Surat dibangun untuk melindungi sesuatu yang sangat berharga. Setiap surat adalah perlindungan untuk petunjuk yang abadi: tauhid, larangan, perintah, halal, haram, dll. Ajaran tersebut sudah diberikan sebelumnya, tapi mereka lenyap. Sekarang Allah menjaganya sehingga tetap murni sampai sekarang.

Bani Israil diberi Rasul setiap generasi, tapi mereka tetap tidak beriman.

Tantangan ini diberikan ketika Rasulullah baru berada di Madinah, sebelum perang Badr.

Bashil Sa-ih: mengumpulkan semua hadits Rasulullah, kemudian melakukan analisis bahasa terhadapnya. Dia membandingkannya dengan gaya bahasa Qur'an. Dia menemukan bahwa Qur'an menggunakan kombinasi yang tidak pernah digunakan oleh Rasulullah.

Dalam surat Al-Fatihah saja dia menemukan 58 kombinasi yang tidak pernah digunakan oleh orang Arab sebelumnya. Contohnya adalah: "ghairil maghdhu bi 'alaihim waladh dhaalin". Kata ghairil diikuti dengan wala. Dalam bahasa Arab kita akan menemukan la-wala, laisa-wala, ma-wala, ghaira-wa-ghaira, ghaira-aw. Kita tidak pernah menemukan kombinasi ghaira-wala kecuali dalam surat Al-Fatihah. Ini menunjukkan bahwa Qur'an bukan buatan manusia.

Contoh berikutnya adalah kata kana. Orang Arab menggunakan kata ini dengan arti "was". Al-Qur'an menggunakan kata ini dengan arti tambahan "is". Wakanallahu ghafurrahima - and Allah is ..... Allah menggunakannya lebih dari 160 kali dalam Qur'an dengan arti termasuk "is". Hadits menggunakan ratusan kata "kana" tapi tidak satupun yang maknanya "is".

Tantangan ini sangat tidak mungkin untuk dipenuhi. Masalah linguistik adalah salah satunya. Qur'an bicara tentang masalah sejarah yang orang Arab tidak pernah mendengarnya. Ilmuwan Barat mengatakan bahwa Rasulullah meminjam cerita dari Injil, dari sejarah Yunani, dari Ethiopia, dari sini, dari sana. Mana mungkin Rasulullah melakukan penelaahan literatur yang demikian. Dari aspek paralel dalam Qur'an tidak ini berasal kecuali dari Allah.

Surat Yusuf diturunkan ketika Rasulullah berada di Mekah. Surat ini menceritakan kisah Yusuf secara lengkap dan memperbaiki kesalahan-kesalahan cerita Yusuf yang terdapat dalam Injil.

Kisah Musa dalam Injil menceritakan bahwa sebelum dia bertemu dengan Allah, dia menggembala domba, padahal menurut Qur'an, beliau bersama dengan keluarganya. Mengapa kisah keluarga Musa dihapuskan? Istri Musa berasal dari Madyan yang merupakan orang Arab. Sementara garis keturunan Yahudi dilihat dari ibunya. Jadi anak-anak Musa adalah orang Arab. Hal ini yang berusaha dihapus oleh mereka.

Ketika Musa akan dinikahkan dengan salah satu anak perempuan dari Syu'aib, beliau diminta mahar bekerja pada beliau selama "tsamaniya hijaj" Hijaj berasal dari kata haj yang artinya haji. Jadi orang tuanya meminta Musa bekerja padanya selama 8 kali musim haji (8 tahun). Orang tua tersebut merujuk pada Ka'bah yang dikenalkan Musa.

Ketika Rasulullah hijrah ke Medinah, beliau berhadapan dengan orang yang berpengetahuan. Tantangan ini ditujukan kepada mereka.

Allah tidak menggunakan kata "fa'tu bishuratin mitslihi" tapi "fa'tu bishuratin min mitslihi". Jadi bukan diminta yang mirip, tapi yang agak mirip saja.

"Syuhada" memiliki dua arti:

  • orang yang menilai apakah ini benar-benar hebat atau tidak
  • penolong
"In kuntum shodiqin" memiliki makna: anda tidak mengatakan yang sebenarnya ketika anda mengatakan bahwa anda ragu-ragu. Ayat ini diawali dengan "in kuntum" - jika kamu. Jadi sebenarnya anda cuma menutupi kesalahan anda sendiri bahwa anda salah dan karena kesombongan.

Ayat ini bukan langkah pertama dalam da'wah. Ini langkah terakhir menjelang hukuman. Ajakan pertama kepada kemanusiaan adalah "alhamdulillahi rabbil 'alamin, arrahmanirrahim".

Pada umat yang lalu, bila Allah sudah mengirim mu'jizat, bila mereka tidak beriman, maka Allah akan menurunkan azab.


24. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.

Yahudi Madinah sudah terpapar oleh Qur'an sejak Rasulullah berada di Mekah. Mereka membantu Quraisy untuk menanyakan masalah yang sulit kepada Rasulullah.

Kata illa taf'alu mengikutsertakan masa kini saja.
Kata illam taf'alu mengikutsertakan masa lalu dan masa kini

Allah menggunakan kata fi'il bukan 'amal. Keduanya sama-sama berarti mengerjakan sesuatu. Tetapi 'amal adalah melakukan sesuatu dengan niat. Fi'il adalah melakukan sesuatu tanpa terlalu memikirkannya. Fi'il adalah bentuk kata dasar untuk melakukan apapun. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa mereka bahkan tidak dapat melakukan sesuatu pun yang agak mirip dengan Qur'an.

Batu dalam ayat ini adalah batu yang mereka sembah. Bisa juga menggambarkan hati yang mengeras menjadi batu. Api yang bahan bakarnya api, lebih panas dari api yang bahan bakarnya kayu atau yang lain. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

HANI 2010, HUT PT. ASKES dan Senam Bersama

Gaji 30 juta rupiah per bulan