The Salahuddin Generation (Ep. 11): Salahuddin’s Legacy — Warisan Terbesar Bukan Tahta, Bukan Kota, Bahkan Bukan Yerusalem

Gambar
Ia mengalahkan para raja. Ia membebaskan Yerusalem. Ia mematahkan Perang Salib Ketiga. Tetapi pada akhirnya—apa yang paling ia takutkan? Apa yang paling ia rindukan? Dan apa yang paling ia titipkan? Episode penutup ini menjawab dengan kalimat yang menohok: yang paling besar dalam pandangan Salahuddin bukanlah kota, bukan kejayaan, bahkan bukan Yerusalem sebagai “trofi” sejarah. Yang paling besar adalah Allah , dan segala yang selain-Nya hanyalah jalan. 1) Mars Terakhir Menuju Yerusalem: “Tidak Ada Lagi yang Datang Menolong” Setelah bertahun-tahun perang, pasukan Frank akhirnya mencoba mengambil “hadiah utama”: Yerusalem . Salahuddin tahu, ini bukan sekadar pertempuran biasa. Maka ia mengumpulkan tentara dan berkata tegas: kalian adalah tentara Islam hari ini, darah, harta, dan keluarga kaum Muslim bergantung pada kalian, tidak ada Muslim lain yang akan datang menolong, ini amanah yang Allah letakkan di pundak kalian. Pidato ini bukan untuk membakar emosi semata, t...

Cerita tentang "Jamban Duduk"

Jamban duduk di Hotel Neo Palma Palangka Raya
Barang ini tidak asing bagi admin, karena sejak pindah ke Jakarta pada tahun 1982, admin sudah menggunakannya. Namun pengalaman itu berubah ketika admin harus berbagi penggunaan "jamban duduk" ini dengan teman satu kos di Kelvin Grove, Queenland, Australia. Kami harus menggunakan jamban ini tanpa air sama dan hanya menggunakan tissue.

Berbeda dengan Indonesia, dimana tempat duduknya selalu basah dan hampir tidak pernah digunakan untuk duduk kecuali setelah disiram dengan air. Nah sekarang saya harus mengupayakan agar tempat duduk ini selalu kering setelah digunakan.

Saat pertama kali menggunakan jamban duduk ini pertama kali di tempat kos, admin harus memastikan bahwa tempat ini memang layak untuk diduduki (tidak ada najis). Jadi admin membasahi tissue dengan air, kemudian mengelap tempat duduk tersebut, kemudian mengeringkannya dengan tissue basah. Setelah itu baru duduk di jamban tersebut.

Jadi kemana-mana harus bawa tissue gulung. Hal itu juga harus admin lakukan bila menggunakan jamban duduk di kampus. Syukurnya jamban duduk untuk mahasiswa "postgraduate - paska sarjana" lebih bersih dibandingkan dengan jamban duduk mahasiswa "undergraduate - sarjana".

Sejak mulai bekerja di Kapuas, Kalimantan Tengah, admin sering mendapat kesempatan untuk menginap di berbagai hotel, mulai dari yang murah sampai yang mahal. Setiap tinggal sekamar dengan orang lain, admin selalu berusaha untuk menjaga agar setiap selesai menggunakan jamban duduk tersebut, tempat duduknya sudah kering dan bersih, sehingga siap digunakan oleh teman sekamar. Namun sayangnya hal itu tidak selalu berjalan dua arah.

Kadang-kadang ada teman sekamar yang mengerti dengan apa yang admin lakukan. Bila pada awalnya dia kurang memperhatikan kebersihan dari tempat duduk jamban tersebut. Saat berikutnya dia juga berusaha untuk menjaga agar tempat duduknya selalu bersih dan kering, sehingga siap untuk diduduki.

Tapi ada kalanya teman sekamar yang tidak mengerti dengan etika menggunakan toilet duduk, kadang-kadang admin menemukan bekas urin masih ada di tempat duduk tersebut, sehingga admin kembali memulai rutinitas diatas yaitu mengambil tissue lalu membasahinya, kemudian membersihkan tempat duduk tersebut dan mengeringkannya. Setelah itu baru menggunakannya.

Dalam pembicaraan di keluarga, admin selalu mengingatkan pada istri dan anak-anak untuk berupaya selalu menjaga kebersihan jamban duduk tersebut, sehingga teman sekamar akan nyaman menggunakannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas