Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

Semua bermula dari kecil (tunas untuk tumbuhan)

Pohon mangga ketika masih kecil
Manusia seringkali ingin cepat. Ingin cepat berhasil, ingin cepat kaya, ingin cepat sukses. Kalau kita mau melihat di sekeliling kita maka banyak pelajaran yang bisa diambil. Sebuah pohon mangga yang besar yang menghasilkan banyak buah yang bermanfaat bagi manusia dimulai dari sebuah biji yang mengeluarkan tunas. Kemudian tunas tersebut tumbuh menjadi besar. Ini memakan waktu selama bertahun-tahun. Jadi bila kita hendak sukses maka kita harus bersabar dalam meraihnya.
Tunas baru sebuah pohon yang dahannya dipotong
Ada tumbuhan yang ketika salah satu dahannya dipotong, dia membuat tunas baru. Ini menunjukkan bahwa kita sebagai manusia jangan pernah putus asa, selalu ada jalan untuk memperbaiki kegagalan atau kesalahan yang pernah kita lakukan dalam kehidupan ini.
Batang muda dari pohon yang sudah tua
Terkadang tunas baru tumbuh dari sebuah batang pohon yang sudah sangat tua.. Ini menunjukkan perlunya regenerasi. Setiap tumbuhan ada masa hidupnya, dia perlu mempertahankan kelangsungan kehidupan generasinya dengan mengupayakan agar ada tunas-tunas muda yang tumbuh. Begitulah kehidupan manusia, mereka perlu anak untuk melanjutkan generasi manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas